Rabu, 31 Maret 2010

HOW TO TEACH LISTENING AND SPEAKING BY USING GAME


Teaching is will be more fun if we use games as the method. Here is one of the examples of games that we can apply to teach listening and speaking. The title of game is ‘What’s the Question?’
What’s the Question?
Level                      :             Any Level
Type of Activity :             Listening and Speaking
Purpose               :             Review question forms previously studied in class
Procedure          :              Form two teams (three will work, but two seems to add just the right amount of competitive tension)
Explain the game, with a few examples of answers in search of question. Ask, ‘What’s the question?’, and get students to correctly say get corresponding questions for your answer. Have two players – one from each team – come to the front. Style it like a game show if you like, with the students standing side by side. If you have access to bells or buzzers, it’s even more fun. Next, read an answer to a question and say, ‘What’s the question?’ the fastest player to respond wins a point to her/his team. New contestants come to the front for a new round.
Rationale             :               This game forces the students to think backwards a little. So they must provide a grammatically perfect question. All too often, they are used to answering rather than asking question, so this is challenging and useful as review.
Submitted by Tim

Source : www.itelj.org/c/games.html

Rabu, 30 Desember 2009

Gadis Kecil

Kau gadis rapuh yang di sana...
Senyummu seketika sirna terhempas angin...
Kau kesepian dan merasa kosong...
Kau merasa hilang dan ditinggalkan...
Hatimu itu rapuh tidakkah kau sadari?...
Kau mudah pecah walaupun terlihat kokoh...
Kau gadis kecil yang kesepian...
Gelak tawamu tak lagi memecahkan keheningan...
Canda guraumu tak lagi didengarkan...
Begitukah duniamu memperlakukanmu?...
Kau tak bisa menantang dunia...
Karena kau merasa lemah dan tak berdaya...
Kau hiraukan semua yg datang...
Kau tinggalkan semua yg kau miliki...
Kau hempaskan semua yg ada...
Dan kau merasa sendiri,
meratapi kesepianmu...
Menangisi kesendirianmu...
Gadis kecil yang rapuh...
Lupakah kau bahwa,
Masih ada mentari pagi yg tetap setia menghangatkan tubuhmu...
Masih ada merdunya kicau burung yg menemanimu...
Masih ada semilir angin yg menerpa lembut wajahmu...
Masih ada pepohonan yg menyegarkanmu...
Gadis Kecil...
Masihkah kau merasa rapuh?...
Masihkah kau merasakan kesendirian?...
Masihkah kau merasakan kesepian?...
Dari dulu hingga sekarang memang begitulah hidup dan kehidupanmu..
Mulailah kembali gadis kecil...
Bahagia oleh Sinar Mentari...
Bahagia oleh merdunya kicau burung...
Bahagia oleh semilir hembusan angin..
Bahagia oleh banyak pepohonan...
Walau tak ada seorangpun yang menemani...
Kau tak boleh rapuh gadis kecil...
Karena...
Dunia membutuhkan gelak tawamu...
Dunia membutuhkan canda guraumu...
Dunia membutuhkan semangat hidupmu...
Dunia membutuhkan senyummu gadis kecilku...
Maka tersenyumlah...
Sambutlah hari esok dengan senyum...
Dengan pelangi mimpi di hatimu...
Dengan gemerlap bintang di matamu...
Dengan sejuta ketegaran yg melapisi rapuhnya hatimu...
Dan kau tak lagi rapuh gadi kecil...
Karena cintamu t'lah membuatmu tetap indah...
Seindah duniamu gadis kecil...

Jumat, 27 November 2009

Buddhis Menulis

Bodoh

Sekitar sebulan yang lalu aku mengangkat telepon dari orang aneh. Lalu tiba-tiba saja orang yang sok kenal dan sok akrab itu mengucapkan kata-kata kotor yang tak pantas aku kemukakan di tulisan ini. Spontan saja karena kaget aku langsung membalas ucapannya dengan kata yang kasar juga, sebutlah satu kata itu ‘Bodoh’. Tapi apa yang terjadi aku malah tampak begitu bodoh karena mengucapkan kata-kata bodoh itu kepada orang bodoh. Lalu siapa yang sebenarnya bodoh? Siapa lagi kalau bukan aku sendiri.

Ada cerita yang menceritakan tentang sebatang pohon cemara yang dicaci maki oleh bunga mawar, tapi si pohon cemara tetap diam dan bertahan selama musim dingin. Sedangkan si mawar, ia mati dan tak dapat bertahan. Inti ceritanya adalah orang yang berkata kasar atau mencaci maki bagaikan orang yang menegadah dan membuang ludahnya ke atas, maka Kata-kata dan caci makinya akan kembali ke dirinya sendiri.


Pelajaran: Jika tidak mau disebut bodoh, maka sabar dan tenanglah kalau sedang dicaci maki.


Tak Sekedar Teman

Vivi Sumanti adalah nama dari seorang teman yang saya jumpai ketika berkunjung ke Wihara Vimala Dharma, Bandung. Walaupun belum kenal lama, tetapi teman yang satu ini begitu ramah dan banyak membantu. Dia tak sungkan-sungkan menyediakan waktunya hanya untuk menemani saya dan teman saya berkeliling sekitar wihara dan menjelaskan sejarah serta fungsi setiap ruangannya. Bahkan teman baru yang penuh senyum ini tak merasa lelah menunggui kami pulang dari mall untuk membeli makan malam, padahal dia baru saja kembali dari acara pembacaan paritta untuk orang yang meninggal.

Karena dialah kami bisa menginap semalam di wihara yang penuh kenangan itu. Kebaikan hatinya banyak menginspirasi saya dan meninggalkan kenangan manis saat bersamanya. Terima kasih teman, semoga saja kita masih dapat bertemu kembali di kehidupan ini.


Pelajaran : Teman yang baik selalu dikenang di hati.

DIBUANG SAYANG


Beberapa waktu lalu saya sempat terpilih dari sekian ribu orang sebagai peserta BFBA (Bikin Film Bareng Artis) yang diselenggarakan oleh LA Light Indie Movie, yaitu salah satu program yang merupakan wadah untuk belajar dan berkreasi di bidang perfilman Indonesia. Khusus program BFBA peserta terpilih akan membuat film pendek bareng artis dan Program ini akan diperkirakan memakan waktu berbulan-bulan.

Saya senang sekali ketika mendengar berita terpilihnya saya, apalagi ketika mereka mengundang peserta untuk menghadiri workshop di Yogyakarta yang tentunya di sana akan hadir orang-orang hebat. Namun sayangnya di akhir keputusan, saya harus merelakan kesempatan besar itu, dan saya harus mengundurkan diri karena waktu belajarnya bentrok dengan jam kerja saya, apalagi saya juga berencana untuk melanjutkan kuliah saya. Walaupun awalnya tak terlalu mengharap untuk terpilih, tetapi ketika mendapatkannya kita menjadi sulit untuk melepas.

Pelajaran : Mendapat lebih mudah dari melepas.

Jumat, 02 Oktober 2009

Surat Cinta Untuk Seorang Teman

"Aku percaya padamu sebagaimana Aku selalu memaafkan kesalahan-kesalahanmu dulu"
Beberapa hari lalu dia meneleponku, suaranya parau dan terdengar letih. Terasa kesedihan di setiap alunan kata-katanya. Dia tidak seperti biasanya, tidak lagi menghina, mencaci-maki, ataupun mengucapkan kata-kata kasar seperti yang dia sering lakukan ketika meneleponku. Bukan berarti dia membenciku, hanya saja begitulah gayanya mengekspresikan perasaannya. Kasar dan kadang tak berprikemanusiaan... Ya, menyakitkan.. Tp selalu menghibur dan membuat kami berdua tertawa. Hubungan kami berdua memang sudah tidak seperti dulu lagi, sudah jarang berbicara lewat telepon, apalagi untuk bertatap muka. Jujur saja bukan hanya kesibukanku saja yg membuatku tak pergi ke rumahnya, tapi karena memang adakalanya aku enggan untuk menemuinya. Terkadang ada saja prilaku yg membuatnya tampak menyebalkan jika kita saling bertemu dan berbicara. Ya.. begitulah Aku dan dia kalau sudah berhubungan, tak pernah terlihat akur dan senang sekali saling mengejek satu sama lain. Sepertinya hal itu memang sudah menjadi dasar dari rasa sayang Aku dan Dia. Percakapan kami lewat telepon beberapa hari lalu mengingatkanku kembali akan semua kenangan-kenangan yg sudah lama berlalu. Cerita-cerita yg pernah dia dongengkan dulu, rasanya sekarang ini bukan lagi menjadi senjata andalannya, melainkan mungkin telah menjadi batu sandungan baginya. Bukan suatu kebanggaan, apalagi sesuatu yg bisa dijadikan bahan melucu untuk merayu semua wanita-wanita yg mudah dirayu agar masuk ke dalam pelukannya. Saat ini cerita-cerita super heronya itu malah menjadi beban dalam hidupnya... Bahkan menjadi himpitan untuk terus menjalani hidupnya sekarang. Dia boleh menjadi jagoan di masa lalu, menjadi yg paling beken maupun yg disegani di kalangannya. Namun saat ini teman, waktu telah berubah. Kau bukan lagi jagoan, bukan lagi orang beken ataupun orang yg disegani di kalanganmu. Kau sekarang bukan lagi seorang pemberani yg nekad mengorbankan nyawamu di tengah2 pertarungan, demi sebuah persahabatan hitammu. Kau sekarang hanyalah seorang penakut yg takut karena lingkungan tak lagi mempercayaiMU.
TAPI, jangan khawatir teman, Aku selalu mempercayaimu sebagaimana Aku selalu memaafkan kesalahan-kesalahanmu... Aku percaya kau sudah berubah... Jangan biarkan orang lain merenggut kebahagiaanmu. Biarlah mereka bicara apa saja tentang dirimu, jangan kau pedulikan...
Mereka bukanlah penentu kebahagiaanmu...
Mereka tidak berhak atas kebahagiaanmu... Raihlah kebahagiaanmu Teman.
Kalau saja hari ini kau bersedih karena mereka tak mempercayaimu... Tak percaya bahwa kau telah berubah. Masih ada Aku, temanmu yg mempercayaimu. Walaupun Aku satu dari seribu, namun Aku tetap setia mendukungmu, memberimu semangat, memberimu kasih sayang dan memberimu pundakku untuk kau tangisi. Janganlah menyerah teman.. Mereka hanya ingin melampiaskan kemarahan mereka.. Mereka hanya merasa takut, mereka hanya merasa khawatir dan tidak suka. Namun tdk ada satu pun dari mereka yg boleh menghalangimu untuk dapat berubah dan menjadi penentu kebahagiaanmu sendiri.
"Aku sudah berusaha bersabar dan bertahan, tapi mereka tetap saja tak percaya", begitu katamu.. Ku tahu kau rentan pecah, karna kau baru memulai. Kau menjadi tak sabar dan kini kehilangan kepercayaan diri. Kau menjadi terkucilkan, dan merasa tak diterima. Tapi teman, kesabaran tak ada batasnya, yg harus kau lakukan hanyalah menunggu dan membuktikan bahwa kau benar-benar berubah, bersungguh-sungguh menjadi pribadi yg baru. Jika memang lingkunganmu tak mendukungmu untuk menjadi lebih baik, carilah lingkungan baru yg mampu mendukung dan mengajarkanmu untuk berubah. Apa pun yg terjadi teman, Aku tetap mendukung dan mempercayaimu.
Teman waktu yg lalu sudah berlalu...
Waktu itu hanya bisa dikenang, janganlah dijadikan penyesalan. Seperti hal nya Aku yg tak pernah menyesali hubunganku denganmu... Aku berterima kasih padamu teman, karena dengan kaulah banyak hal yg Aku pelajari, banyak hal yg harus Aku syukuri. Seperti itulah harusnya kau lakukan. Jangan selalu menyesali apa yg telah kau perbuat terhadapku dan yg lain. Syukurilah bahwa kita masih berteman dan kau masih dapat memperbaikinya.
Jangan berhenti berubah untuk menjadi pribadi yg lebih baik dan membawamu pada kebahagiaan.
Ditulis untuk seorang teman yg mungkin tidak akan pernah membaca pesan ini...

With Care,
Selfy Parkit
Tangerang, 15th July 2009

Kalimat Sakti

Kalimat Sakti

Suatu hari temanku mengatakan sebuah kalimat sakti, “Kalau tidak begitu dunia ini tidak menarik”. Lalu saktinya di mana? Kalimatnya terdengar biasa saja. Tapi coba renungkan dan aplikasikan pada setiap kasus di dalam kehidupan kita.

Misalnya, tiba-tiba saja kita harus bertemu dengan orang yang menyebalkan dan terus mengganggu, atau kita harus menghadapi sms-sms iseng yang isi pesannya tidak layak dibaca, mungkin juga kita harus menghadapi bos kita yang suka marah. Tentunya hal-hal tersebut bisa saja membuat kita merasa lelah dan tak nyaman. Ingin menyingkirkan orang-orang tersebut seketika dari hadapan kita. Tapi apakah dengan begitu kita merasa hidup kita akan tenang dan bahagia selamanya? Tentu tidak, karena kita akan terus menghadapi hal serupa di dalam hidup kita. Tapi coba aplikasikan kalimat sakti di atas! “Kalau tidak ada mereka dunia ini tidak menarik”. Karena ada merekalah hidup kita menjadi warna-warni.

Pelajaran: kebahagiaan tergantung bagaimana kita memandangnya

Dimuat di buletin BVD edisi September 2009

Lingkaran

Lingkaran itu terlihat begitu nyata..
Ku Tak percaya, namun tak mampu mengingkarinya..
Ia menarikku ke dalamnya
Memaksaku untuk masuk, dan ku terbuai dlm rayuannya..
Lingkaran itu kadang memperdayaku..
Namun kadang mengajariku kelembutan..
Lingkaran...
Hati ini masih goyah..
Hati ini masih rentan..
Hati ini mudah terpedaya..
Hati ini kekeringan..
Hati ini kosong kerontang...
Karena kau lingkaran.. Kau tak pernah mampu mengisinya..
Kau begitu hampa.. Kau selalu berputar..
Kau tak pernah pasti..
Kau tak pernah tetap memutuskan..
Kau berdiri di sana, atas kemauanmu walau tak ada yg memintamu...
Namun, Lingkaran...
Hati ini butuh kepastian...
Hati ini butuh ketetapan...
Hati ini butuh kekekalan...
Hati ini butuh terisikan...
Oh.. Lingkaran..
Lihat...
Begitu bodohnya si hati...
Begitu tak berdayanya si hati...
Begitu kasihannya si hati...
Karena kau pun tahu.. Kau takkan pernah dapat memenuhinya...
Kau takkan pernah bisa pasti...
Kau takkan pernah bisa tetap...
Kau takkan pernah bisa kekal...
Bagaimana kau mampu mengisinya slalu??
Begitulah si Hati yg akan terus tak puas dan tersakiti...
Tak henti, selalu tertutupi oleh debu warna-warni nan indah...
Iya.. Lingkaran..
Aku paham kau tak perlu memberitahuku..
Lihat akan betapa sombongnya aku jadinya..
Kutunjukan Betapa beraninya aku menantangmu...
Tapi aku bodoh lingkaran.. Aku terlalu bodoh..
Aku memaksakan hal yg tak mungkin..
Memaksakan yg belum pasti..
Memaksakan kekekalan...
Oh.. Lingkaran bisakah aku yg mengisimu dengan kasih...
Dengan cinta...
Dengan perhatian...
Dengan kelembutan...
Dengan ketulusan...
Dengan kesetiaan...
Dengan perhatian...
Dan dengan kebaikan setiap harinya...
Oh.. Lingkaran.. Dengan begitu mulai hari ini bisakah ku pinta pada mu??
Hanya Satu hal saja pada dirimu...
Berikanlah saja tawa dan senyumanmu kepadaku dan Hatiku...
Itu sudah cukup membuatku Bahagia.. Lingkaran...