Tampilkan postingan dengan label Life Inspirations. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Life Inspirations. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Agustus 2009

Bangkai Tikus


Oleh Selfy Parkit

Kekesalan ini membawaku kepada kemarahan. Beberapa hari yang lalu di kamarku terjadi sesuatu yang menghebohkan. Di sore hari ketika aku sedang menikmati istirahatku tiba-tiba adik perempuanku berseru sambil memprotes dan memecahkan keheningan tidur soreku. “Bau..” begitu katanya, kamarku bau tikus mati alias bangkai tikus. Aku yang akhirnya terbangun dari tidurku berusaha dengan keras menarik nafas, mencari tahu kebenaran kata-kata adik perempuanku. “Mana, ga bau kok!”, seru ku sambil mengendus-enduskan hidungku. Lalu, karena sudah terbangun dari tidur, tak ada lagi yang dapat aku lakukan di kamarku selain berbaring. Namun karena bosan dan tak tahu lagi apa yang harus aku perbuat aku pun beranjak meninggalkan kamar tidurku dan lari ke ruang tamu. Aku duduk dengan tenang sambil menonton televisi acara reality show. Beberapa saat kemudian perut ini terasa lapar dan meminta jatah hariannya. Aku pun mengisi perut ini tanpa lagi memikirkan si bangkai tikus yang bau itu, yang sedang menyebarkan kebauannya di dalam ruangan kamarku yang cukup kecil itu. Selesai bersantap sore, sekali lagi aku diributkan oleh gerutuan-gerutuan adik perempuanku persoalan bau yang masih saja sama. “Kenapa masih saja menggerutu! Ya, dicari dong di mana bangkai tikusnya.” kataku sambil menghampirinya. “Besok aja, udah sore ribet.” Jawab adikku enteng. “Kalau ntar mau tidurnya bau-bauan, ya udah!” seruku cuek. Lalu ketika berpikir sejenak, adikku ini pun masuk ke dalam rumah, dan tak lama kemudian ia pun berteriak memanggilku, “Kak, cepetan sini bantuin aku dong!” Ternyata seketika pikirannya pun berubah, tak mau menunggu waktu yang ada untuk menyelesaikan permasalahan bau yang mengganggunya. Apalagi tidur bersama dengan bau yang menyengat dan membangkitkan selera untuk marah-marah menyalahkan tikus yang sudah mati itu.

Sedikit demi sedikit dan satu persatu dikeluarkannya barang-barang yang ada di kamar tempat tidur kami itu. Mulai dari meja kecil, rak-rak buku, kardus-kardus bekas miliknya yang ternyata sudah tak terpakai lagi sampai dengan lemari yang kurang lebih isinya buku-buku dan barang-barang lainnya pun mendapat giliran untuk berpindah dari tempatnya. Setelah sebagian besar dari barang-barang tersebut sudah keluar dari kamar, seketika bau bangkai tikus itu pun sudah tidak tercium lagi di dalam kamar kami, melainkan pindah menyebarkan aromanya di ruang tamu tempat kami menaruh barang-barang tersebut. Sebagian dari orang-orang di rumahku mulai heboh, ada yang berpendapat ini dan itu, ada yang mengusulkan ini dan itu. Namun tak satu pun dari mereka yang turun tangan untuk membantu, karena takut akan melihat bangkai tikus yang jelas-jelas sudah tentu mati. Dengan gerutuan yang masih saja mendesis, di tambah lagi dengan rasa sedikit takut dan geli, adikku pun perlahan-lahan mencari-cari bangkai tersebut. Dibongkar dan dipisahkannya barang-barangnya yang sudah tak terpakai itu untuk dikumpulkan. “De, lebih baik barang-barang yang tak dipakai itu dibuang saja, atau kalau ada barang yang masih layak pakai tapi tidak dibutuhkan lagi lebih baik dikasih orang saja!” teriakku sambil membersihkan barang-barang yang ada di dalam kamar dan merasa kesal mendengar gerutuan-gerutuan adikku yang tak ada habisnya itu, ‘Bukannya di cari malah menggerutu terus’ pikirku. Saat itu kemarahan pun mulai timbul dan hampir memecahkan pengendalian diriku. Terlebih lagi melihat kamar kami yang memang agak sedikit berantakan karena sudah lama tidak mengalami pembersihan besar-besaran membuat beban pikiranku semakin bertambah. Mengapa selama ini masing-masing dari kami selalu saja melemparkan tugas dan tanggung jawab untuk membersihkan kamar tersebut, saat itu aku mulai menyesalinya.

Satu persatu barang yang sudah tak bermasalah dan tak ada bangkai tikus di dalamnya dimasukkan kembali ke dalam kamar, begitu juga dengan barang-barang yang tak terpakai, dikumpulkan dan dibuang ke dalam tong sampah. Dengan begitu akan semakin mudahlah pencarian bangkai tikus kami. Sampai akhirnya teriakan histeris pun terdengar di tengah-tengah ruang tamu. “Ah..ah.. ka, ini-ini bangkainya sudah ketemu!”, seru adikku sambil meringis kegelian dan menunjuk-nunjuk ke arah bangkai tersebut. Bangkai dari anak tikus yang baunya dipermasalahkan itu bersembunyi di dalam keranjang tumpukan pakaian kotor. Seketika rasa kesal kami pun lenyap bersamaan dengan dibuangnya bangkai tikus kecil yang menyebarkan bebauannya itu, sebau rasa kesal kami yang akhirnya menyebabkan kemarahan. Dengan begitu, kamar kami pun terbebas dari bau-bau yang menyengatkan. Namun, tidak dengan pikiran kami yang masih suka terusik dengan kekesalan dan kemarahan hanya karena bau dari bangkai seekor tikus.

Sesungguhnya bangkai tikus itu seperti kekotoran batin di dalam diri kita yang harus dibersihkan. Untuk membersihkannya kita harus sabar dan perlahan-lahan mencari tahu dan mengenali si kekotoran batin tersebut hingga akhirnya bisa kita bersihkan yaitu dengan belajar dan berlatih atau mempraktikannya. Di dalam pelatihan dan pembelajaran itu, kita akan banyak menemukan hal atau ajaran dan orang-orang yang akan memberikan petunjuk dan saran-saran. Akan tetapi, tak banyak dari mereka yang bisa dan mau turun tangan untuk membantu kita dalam membersihnya. Kita sendirilah yang harus lebih giat berusaha dan tidak selalu menggantungkan diri terhadap makhluk lain. Selain itu juga akan ada banyak ajaran-ajaran yang mengaku kebenaran, yang mendorong kita untuk berpikir lebih bijaksana. Hingga akhirnya kekotoran batin tersebut bisa kita buang dari batin ini dan kebahagiaan pun akan datang mengisinya. Namun, jangan sampai bau dari bangkai tikus itu kembali merusak kebahagiaan kita.

Thanks to My MoM&Friends

SEMINAR SEHARGA DUA SETENGAH JUTA


15 Mei 2009, gw ditawarin ikut seminar seharga 2,5 juta dari temen gw Sinato. Melihat harganya otomatis gw jadi penasaran dan pengen banget ikut seminar itu (maklum ga pernah datang seminar yang mahalnya sebegitu..haha..). Eh… sayangnya seminar itu diselenggarakan pada tanggal 29 s/d 31 Mei 2009, yang kebetulan tanggal 29 Mei itu adalah hari Jum’at, yaitu hari terakhir gw masuk kerja dalam seminggu. Wah kalau gw bener-bener pingin mewujudkan niat gw, maka mau ga mau gw harus tidak masuk kerja pada hari itu dan ada 3 alternatif yang bisa dan harus gw lakuin tentunya. Alternatif pertama adalah gw harus bolos kerja, kedua gw harus izin dan tidak mengatakan alasan dan tujuan yang sebenarnya, dan alternatif terakhir adalah meminta izin dengan mengatakan yang sejujurnya (yang otomatis peluang kemungkinannya adalah ditolak. Hahaha…). Wah kalau begini bisa-bisa ga jadi ikut seminar seharga 2,5 juta neh. Awalnya gw emang males banget untuk minta izin ga masuk kerja Cuma buat ikut seminar doang. Tapi melihat price-nya and kesempatan yang belum tentu datang 2 kali, bikin gw memberanikan diri minta izin sama bos gw untuk ga masuk kerja. Sebenernya lagi neh, 3 alternatif cara yang harus gw ambil itu udah ada di otak gw. Tapi sekali lagi, gw yang ga pernah minta izin untuk urusan yang begituan, jadi ngerasa enggan buat ngelakuinnya (kalo ga ngerti ngelakuin maksudnya melakukannya haha..). Secara gw ga suka izin kerja buat urusan pribadi he..he…. Tapi saat itu gw bener-bener nekad, walaupun jujur gw ngerasa takut, nervous, and gelisah saat nunggu-nunggu kesempatan buat ngomong ma bos gw. Padahal seminar itu masih 2 minggu lagi, tapi gw pikir gw harus minta izin sekarang, karena pada dasarnya gw enggan dipenuhi pikiran yang gelisah setiap harinya hanya karena ingin mengatakan sesuatu yang pada akhirnya harus gw katakan juga (he..he.. kan goblok itu namanya hahaha…).
So, saat itu keputusan untuk tidak masuk kerja selama 1 hari sudah dibulatkan, tapi sekali lagi cara apa yang harus gw ambil??? Kalau bolos, gw rasa itu adalah alternatif dan cara tergila yang pernah gw pilih. Karena jujur aja.. gw ini termasuk orang yang ga enakkan kalau bolos. Jangankan bolos kerja, bolos sekolah aja langka banget (he..he.. gw kan masih lugu.. we..hwek.. mo muntah rasanya ngedengernya ya!! Haha.. makanya gw agak-agak kuper..hahaha). Cara yang memungkinkan gw ambil adalah alternatif kedua dan ketiga. Minta izin dengan mengatakan yang tidak sebenarnya, alih-alih kemungkinan besar disetujui sudah di depan mata, yaitu dengan alasan urusan keluarga kek, sakit kek, dan lain sebagainya (wah hebat bener pikiran picik gw, he..he.. bisa ngarang ampe yang ngga-ngga segala ha..ha..). Kemudian pilihan atau alternatif ketiga yaitu dengan mengatakan alasan yang sebenarnya, dan gw tau pasti bos gw ga akan kasih izin untuk ga masuk dengan alasan yang beginian. Sudah tentu temen-temen gw pun tahu hasil yang mungkin gw terima kalau gw pake alternatif yang terakhir tersebut. Makanya, rata-rata dari mereka nyaranin gw buat ngelakuin cara yang kedua yaitu minta izin dengan alasan keluarga dan sebagainye… Gw yang ga pernah ngelakuin itu sama bos gw (ha..ha.. innocent ;P masa seh.. yang bener loooo..) otomatis ngerasa takut dan ga enakkan, apalagi kalo gw disuruh bohong, wah keringet dingin gw udah ngucur duluan tuh. Ha..ha… untungnya ada 1 orang temen gw yang meyakinkan gw kalau ada kemungkinan gw bakal diizinkan bos gw dengan mengatakan alasan yang sebenarnya. Alasan yang dikatakan temen gw yang satu ini nampaknya cukup masuk akal juga dan menambah keyakinan serta keberanian gw buat ngomong sama bos gw. Akhirnya dengan segala konsekuensi yang ada, gw menemui bos gw dan menyatakan maksud dan tujuan gw, tentunya dengan mengatakan alasan dan tujuan sebenarnya.
Benar saja apa yang gw prediksikan akhirnya terjadi. Walaupun sudah berkata jujur, tetap saja izin untuk tidak masuk kerja dengan alasan ikut seminar guna pengembangan karakter diri tidak berhasil. Awalnya bos gw dengan telak menolak permintaan izin gw, karena selain alasannya kurang penting, ternyata pada hari yang sama ada salah satu guru yang juga izin untuk tidak masuk. Setelah berkata beberapa kata, ternyata bos gw juga cukup bijaksana dalam hal ini, dan gw paham benar posisi dia sebagai seorang bos. Kalau saja gw saat ini diizinkan untuk ga masuk kerja dengan alasan pergi seminar atau alasan-alasan lain yang katakanlah tidak terlalu emergency, tentunya nanti akan ada banyak lagi pekerja-pekerja lainnya, yang juga meminta izin dengan alasan yang sama. And jika bos gw seandainya menyetujui izin gw, maka dia pun takkan pernah bisa berkata tidak kepada mereka-mereka yang juga meminta izin di masa yang akan datang. Karena toh bos gw akan dianggap tak adil dalam hal ini. Trus… kenapa kok gw bilang bos gw ini cukup bijaksana? Kan dia juga nolak permintaan gw! Eh… tunggu dulu, sebenernya dia ga nolak permintaan izin gw mentah-mentah kok. Awalnya gw pikir putuslah sudah harapan gw buat ikut seminar seharga 2 setengah juta ntuh, namun setelah bos gw mengajukan beberapa pertanyaan dan pernyataan, ternyata kejujuran gw ga sia-sia. Pada dasarnya dia setuju kalau gw ikut dan hadir dalam seminar itu, hanya saja dia ga bisa memberikan izin secara formal, yang tentunya ada konsekuensi yang harus gw terima kalau gw ga masuk pada hari itu (potong gaji – potong gaji dah… hahaha… nasib..nasib.. hehehe..). sebagai seorang bos dia pun benar-benar memperhatikan kesejahteraan dan kepentingan para karyawannya. Sampai akhirnya keputusan yang dia berikan kepada gw adalah dia tidak bisa melarang gw untuk tidak pergi dan juga tidak dapat memberikan izin untuk tidak masuk kerja. Hmmm.. namun, pada dasarnya dia menyetujui keputusan gw untuk hadir dalam seminar itu (baik kan bos gw!!! Hore.. ikut seminar.. ikut seminar.. gratisan .. hahaha…) walaupun kemungkinan ada potongan gaji dan lain sebagainya, gw tetap saja menghormati keputusan bos gw. Terlebih lagi gw berterima kasih atas kesempatan dan kepercayaan yang dia berikan buat gw. Seketika gw jadi tambah bersemangat dalam berkerja, dan yang terpenting gw sudah lega karena telah mengatakan serta mengungkapkan maksud dan tujuan gw dengan sejujur-jujurnya. Thx Bos!
Selfy Parkit’09