Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 22 Agustus 2009

Kekuatan Cinta Adut (artikel lomba BFBA-BFCG)

Kekuatan Cinta Adut

Lisa dan Willy adalah pasangan muda yang sudah lama bertunangan dan akan segera menikah. Namun, rencana pernikahan mereka harus kandas lantaran Willy meninggal, seminggu sebelum hari pernikahannya. Willy yang semasa hidupnya amat menyukai binatang perliharaan, ternyata terlahir kembali sebagai seekor anak anjing peliharaan Ibu Grambel, yaitu seorang janda tua yang hidup sendiri dan bertempat tinggal di sebelah rumah Lisa.

Sementara tunangannya Willy menjalani hidupnya sebagai seekor anjing, Lisa sang penulis novel akhirnya menerima tawaran bosnya untuk mengambil cuti dalam beberapa minggu guna menenangkan dirinya. Selama liburannya di rumah, Lisa menjadi lebih mengenal dekat para tetangganya. Satu hal yang membuatnya terhibur adalah seekor anak anjing Ibu Grambel yang baru saja lahir, dan tak lain adalah kelahiran kembali dari tunangannya itu. Akhirnya kekuatan cinta mereka menyatukan mereka kembali, walaupun dalam wujud yang berbeda. Lisa yang sebelumnya tidak menyukai seekor anjing, ternyata telah jatuh hati dengan makhluk lucu yang selalu menyapanya itu. Ia pun kemudian memelihara dan merawat anak anjing itu dirumahnya. Peliharaannya itu diberi nama Adut, yang artinya ‘Anjing Gendut’. Selama tinggal bersama Adut, banyak kejadian aneh yang selalu mengingatkan Lisa tentang tunangannya. Perihal prilaku Adut yang sepertinya tahu banyak tentang kebiasaan dan kesukaan Lisa. Keanehan prilaku anjingnya itu semakin menjadi, ketika Victor sahabatnya semasa kuliah muncul dan mulai berusaha mendekati Lisa. Apa pun yang dilakukan Victor demi merebut hati Lisa sepertinya tidak disukai Adut. Adut pun selalu uring-uringan jika Victor datang menemui Lisa di rumahnya ataupun mengajaknya pergi untuk makan malam bersama. Kelakuan Adut terhadap Victor semakin lama membuat Lisa kepusingan. Sampai suatu ketika Lisa sempat berniat membuang dan menelantarkan Adut, karena perbuatannya yang dengan sengaja menggigit tanganVictor, ketika Victor berusaha mencium Lisa. Namun, sekali lagi karena didasari oleh kekuatan cinta, Lisa pun tidak tega dan mengurungkan niatnya untuk membuang Anjing peliharaannya itu.

Bulan demi bulan berlalu, Adut pun bertambah tinggi dan besar, namun ketidaksukaannya terhadap Victor masih saja berlanjut. Terlebih lagi ketika mengetahui niat Victor untuk melamar Lisa, membuat Adut semakin gerang dan memaksa Lisa untuk selalu bertemu Victor di luar rumahnya. Walaupun, Lisa masih dibayang-bayangi oleh sosok mantan tunangannya, namun lama kelamaan hati Lisa pun mencair berkat rayuan kata-kata manis Victor. Keputusan Lisa untuk menerima lamaran Victor membuat Adut jadi sakit-sakitan, anjing itu pun menjadi pendiam dan tak lagi memusingkan kehadiran Victor di rumahnya. Adut yang sepertinya telah kehilangan gairah hidup dan hanya bisa tidur terdiam di dalam kandangnya, seakan-akan merelakan dan mengerti perasaan majikannya. Waktu pun berlalu, dan hari pertunangan akhirnya tiba. Di akhir pesta pertunangannya Victor mabuk berat dan secara tidak sadar mengucapkan sesuatu perihal kematian Willy yang juga sahabatnya semasa kuliah. Dengan sembarangan, Victor menceritakan rasa cintanya yang lama ia simpan terhadap Lisa, dan rasa sakit hatinya kepada Willy ketika datang ke rumahnya untuk mengantarkan undangan pernikahannya dengan Lisa, pada hari dimana Willy mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat. Sambil gembira dan tertawa lebar, Victor dengan bodohnya mengatakan rahasia yang seharusnya ia simpan rapih. Sebuah rahasia besar, dimana ia telah mencapurkan obat tidur pada minuman yang disuguhkannya kepada Willy. Seketika mendengar hal itu Lisa menjadi garang, dan pergumulan di antara mereka pun terjadi di luar rumah, sampai akhirnya satu buah mobil melintas dan akan menabrak Lisa. Namun, saat itu Adut telah bebas dari kandangnya dan berhasil menyelamatkan Lisa. Karena terbentur aspal Lisa pun pingsan dan tidak mengetahui kalau anjingnya itu telah mati menyelamatkannya. Kemudian karena perbuatan baik yang dilakukan Willy sebagai seekor anjing, Willy pun diberi kesempatan untuk menemui Lisa di alam bawah sadarnya, dan memberitahukan atas semua yang telah terjadi. Dengan mengucapkan selamat tinggal dan mendoakan semoga selalu bahagia, sosok Willy pun lenyap bersamaan dengan cahaya yang membuka pelupuk mata Lisa. Setelah sadar dari pingsan, Lisa pun akhirnya memutuskan pertunangannya dengan Victor.

By. Selfy Parkit

Bangkai Tikus


Oleh Selfy Parkit

Kekesalan ini membawaku kepada kemarahan. Beberapa hari yang lalu di kamarku terjadi sesuatu yang menghebohkan. Di sore hari ketika aku sedang menikmati istirahatku tiba-tiba adik perempuanku berseru sambil memprotes dan memecahkan keheningan tidur soreku. “Bau..” begitu katanya, kamarku bau tikus mati alias bangkai tikus. Aku yang akhirnya terbangun dari tidurku berusaha dengan keras menarik nafas, mencari tahu kebenaran kata-kata adik perempuanku. “Mana, ga bau kok!”, seru ku sambil mengendus-enduskan hidungku. Lalu, karena sudah terbangun dari tidur, tak ada lagi yang dapat aku lakukan di kamarku selain berbaring. Namun karena bosan dan tak tahu lagi apa yang harus aku perbuat aku pun beranjak meninggalkan kamar tidurku dan lari ke ruang tamu. Aku duduk dengan tenang sambil menonton televisi acara reality show. Beberapa saat kemudian perut ini terasa lapar dan meminta jatah hariannya. Aku pun mengisi perut ini tanpa lagi memikirkan si bangkai tikus yang bau itu, yang sedang menyebarkan kebauannya di dalam ruangan kamarku yang cukup kecil itu. Selesai bersantap sore, sekali lagi aku diributkan oleh gerutuan-gerutuan adik perempuanku persoalan bau yang masih saja sama. “Kenapa masih saja menggerutu! Ya, dicari dong di mana bangkai tikusnya.” kataku sambil menghampirinya. “Besok aja, udah sore ribet.” Jawab adikku enteng. “Kalau ntar mau tidurnya bau-bauan, ya udah!” seruku cuek. Lalu ketika berpikir sejenak, adikku ini pun masuk ke dalam rumah, dan tak lama kemudian ia pun berteriak memanggilku, “Kak, cepetan sini bantuin aku dong!” Ternyata seketika pikirannya pun berubah, tak mau menunggu waktu yang ada untuk menyelesaikan permasalahan bau yang mengganggunya. Apalagi tidur bersama dengan bau yang menyengat dan membangkitkan selera untuk marah-marah menyalahkan tikus yang sudah mati itu.

Sedikit demi sedikit dan satu persatu dikeluarkannya barang-barang yang ada di kamar tempat tidur kami itu. Mulai dari meja kecil, rak-rak buku, kardus-kardus bekas miliknya yang ternyata sudah tak terpakai lagi sampai dengan lemari yang kurang lebih isinya buku-buku dan barang-barang lainnya pun mendapat giliran untuk berpindah dari tempatnya. Setelah sebagian besar dari barang-barang tersebut sudah keluar dari kamar, seketika bau bangkai tikus itu pun sudah tidak tercium lagi di dalam kamar kami, melainkan pindah menyebarkan aromanya di ruang tamu tempat kami menaruh barang-barang tersebut. Sebagian dari orang-orang di rumahku mulai heboh, ada yang berpendapat ini dan itu, ada yang mengusulkan ini dan itu. Namun tak satu pun dari mereka yang turun tangan untuk membantu, karena takut akan melihat bangkai tikus yang jelas-jelas sudah tentu mati. Dengan gerutuan yang masih saja mendesis, di tambah lagi dengan rasa sedikit takut dan geli, adikku pun perlahan-lahan mencari-cari bangkai tersebut. Dibongkar dan dipisahkannya barang-barangnya yang sudah tak terpakai itu untuk dikumpulkan. “De, lebih baik barang-barang yang tak dipakai itu dibuang saja, atau kalau ada barang yang masih layak pakai tapi tidak dibutuhkan lagi lebih baik dikasih orang saja!” teriakku sambil membersihkan barang-barang yang ada di dalam kamar dan merasa kesal mendengar gerutuan-gerutuan adikku yang tak ada habisnya itu, ‘Bukannya di cari malah menggerutu terus’ pikirku. Saat itu kemarahan pun mulai timbul dan hampir memecahkan pengendalian diriku. Terlebih lagi melihat kamar kami yang memang agak sedikit berantakan karena sudah lama tidak mengalami pembersihan besar-besaran membuat beban pikiranku semakin bertambah. Mengapa selama ini masing-masing dari kami selalu saja melemparkan tugas dan tanggung jawab untuk membersihkan kamar tersebut, saat itu aku mulai menyesalinya.

Satu persatu barang yang sudah tak bermasalah dan tak ada bangkai tikus di dalamnya dimasukkan kembali ke dalam kamar, begitu juga dengan barang-barang yang tak terpakai, dikumpulkan dan dibuang ke dalam tong sampah. Dengan begitu akan semakin mudahlah pencarian bangkai tikus kami. Sampai akhirnya teriakan histeris pun terdengar di tengah-tengah ruang tamu. “Ah..ah.. ka, ini-ini bangkainya sudah ketemu!”, seru adikku sambil meringis kegelian dan menunjuk-nunjuk ke arah bangkai tersebut. Bangkai dari anak tikus yang baunya dipermasalahkan itu bersembunyi di dalam keranjang tumpukan pakaian kotor. Seketika rasa kesal kami pun lenyap bersamaan dengan dibuangnya bangkai tikus kecil yang menyebarkan bebauannya itu, sebau rasa kesal kami yang akhirnya menyebabkan kemarahan. Dengan begitu, kamar kami pun terbebas dari bau-bau yang menyengatkan. Namun, tidak dengan pikiran kami yang masih suka terusik dengan kekesalan dan kemarahan hanya karena bau dari bangkai seekor tikus.

Sesungguhnya bangkai tikus itu seperti kekotoran batin di dalam diri kita yang harus dibersihkan. Untuk membersihkannya kita harus sabar dan perlahan-lahan mencari tahu dan mengenali si kekotoran batin tersebut hingga akhirnya bisa kita bersihkan yaitu dengan belajar dan berlatih atau mempraktikannya. Di dalam pelatihan dan pembelajaran itu, kita akan banyak menemukan hal atau ajaran dan orang-orang yang akan memberikan petunjuk dan saran-saran. Akan tetapi, tak banyak dari mereka yang bisa dan mau turun tangan untuk membantu kita dalam membersihnya. Kita sendirilah yang harus lebih giat berusaha dan tidak selalu menggantungkan diri terhadap makhluk lain. Selain itu juga akan ada banyak ajaran-ajaran yang mengaku kebenaran, yang mendorong kita untuk berpikir lebih bijaksana. Hingga akhirnya kekotoran batin tersebut bisa kita buang dari batin ini dan kebahagiaan pun akan datang mengisinya. Namun, jangan sampai bau dari bangkai tikus itu kembali merusak kebahagiaan kita.

Thanks to My MoM&Friends

SEMINAR SEHARGA DUA SETENGAH JUTA


15 Mei 2009, gw ditawarin ikut seminar seharga 2,5 juta dari temen gw Sinato. Melihat harganya otomatis gw jadi penasaran dan pengen banget ikut seminar itu (maklum ga pernah datang seminar yang mahalnya sebegitu..haha..). Eh… sayangnya seminar itu diselenggarakan pada tanggal 29 s/d 31 Mei 2009, yang kebetulan tanggal 29 Mei itu adalah hari Jum’at, yaitu hari terakhir gw masuk kerja dalam seminggu. Wah kalau gw bener-bener pingin mewujudkan niat gw, maka mau ga mau gw harus tidak masuk kerja pada hari itu dan ada 3 alternatif yang bisa dan harus gw lakuin tentunya. Alternatif pertama adalah gw harus bolos kerja, kedua gw harus izin dan tidak mengatakan alasan dan tujuan yang sebenarnya, dan alternatif terakhir adalah meminta izin dengan mengatakan yang sejujurnya (yang otomatis peluang kemungkinannya adalah ditolak. Hahaha…). Wah kalau begini bisa-bisa ga jadi ikut seminar seharga 2,5 juta neh. Awalnya gw emang males banget untuk minta izin ga masuk kerja Cuma buat ikut seminar doang. Tapi melihat price-nya and kesempatan yang belum tentu datang 2 kali, bikin gw memberanikan diri minta izin sama bos gw untuk ga masuk kerja. Sebenernya lagi neh, 3 alternatif cara yang harus gw ambil itu udah ada di otak gw. Tapi sekali lagi, gw yang ga pernah minta izin untuk urusan yang begituan, jadi ngerasa enggan buat ngelakuinnya (kalo ga ngerti ngelakuin maksudnya melakukannya haha..). Secara gw ga suka izin kerja buat urusan pribadi he..he…. Tapi saat itu gw bener-bener nekad, walaupun jujur gw ngerasa takut, nervous, and gelisah saat nunggu-nunggu kesempatan buat ngomong ma bos gw. Padahal seminar itu masih 2 minggu lagi, tapi gw pikir gw harus minta izin sekarang, karena pada dasarnya gw enggan dipenuhi pikiran yang gelisah setiap harinya hanya karena ingin mengatakan sesuatu yang pada akhirnya harus gw katakan juga (he..he.. kan goblok itu namanya hahaha…).
So, saat itu keputusan untuk tidak masuk kerja selama 1 hari sudah dibulatkan, tapi sekali lagi cara apa yang harus gw ambil??? Kalau bolos, gw rasa itu adalah alternatif dan cara tergila yang pernah gw pilih. Karena jujur aja.. gw ini termasuk orang yang ga enakkan kalau bolos. Jangankan bolos kerja, bolos sekolah aja langka banget (he..he.. gw kan masih lugu.. we..hwek.. mo muntah rasanya ngedengernya ya!! Haha.. makanya gw agak-agak kuper..hahaha). Cara yang memungkinkan gw ambil adalah alternatif kedua dan ketiga. Minta izin dengan mengatakan yang tidak sebenarnya, alih-alih kemungkinan besar disetujui sudah di depan mata, yaitu dengan alasan urusan keluarga kek, sakit kek, dan lain sebagainya (wah hebat bener pikiran picik gw, he..he.. bisa ngarang ampe yang ngga-ngga segala ha..ha..). Kemudian pilihan atau alternatif ketiga yaitu dengan mengatakan alasan yang sebenarnya, dan gw tau pasti bos gw ga akan kasih izin untuk ga masuk dengan alasan yang beginian. Sudah tentu temen-temen gw pun tahu hasil yang mungkin gw terima kalau gw pake alternatif yang terakhir tersebut. Makanya, rata-rata dari mereka nyaranin gw buat ngelakuin cara yang kedua yaitu minta izin dengan alasan keluarga dan sebagainye… Gw yang ga pernah ngelakuin itu sama bos gw (ha..ha.. innocent ;P masa seh.. yang bener loooo..) otomatis ngerasa takut dan ga enakkan, apalagi kalo gw disuruh bohong, wah keringet dingin gw udah ngucur duluan tuh. Ha..ha… untungnya ada 1 orang temen gw yang meyakinkan gw kalau ada kemungkinan gw bakal diizinkan bos gw dengan mengatakan alasan yang sebenarnya. Alasan yang dikatakan temen gw yang satu ini nampaknya cukup masuk akal juga dan menambah keyakinan serta keberanian gw buat ngomong sama bos gw. Akhirnya dengan segala konsekuensi yang ada, gw menemui bos gw dan menyatakan maksud dan tujuan gw, tentunya dengan mengatakan alasan dan tujuan sebenarnya.
Benar saja apa yang gw prediksikan akhirnya terjadi. Walaupun sudah berkata jujur, tetap saja izin untuk tidak masuk kerja dengan alasan ikut seminar guna pengembangan karakter diri tidak berhasil. Awalnya bos gw dengan telak menolak permintaan izin gw, karena selain alasannya kurang penting, ternyata pada hari yang sama ada salah satu guru yang juga izin untuk tidak masuk. Setelah berkata beberapa kata, ternyata bos gw juga cukup bijaksana dalam hal ini, dan gw paham benar posisi dia sebagai seorang bos. Kalau saja gw saat ini diizinkan untuk ga masuk kerja dengan alasan pergi seminar atau alasan-alasan lain yang katakanlah tidak terlalu emergency, tentunya nanti akan ada banyak lagi pekerja-pekerja lainnya, yang juga meminta izin dengan alasan yang sama. And jika bos gw seandainya menyetujui izin gw, maka dia pun takkan pernah bisa berkata tidak kepada mereka-mereka yang juga meminta izin di masa yang akan datang. Karena toh bos gw akan dianggap tak adil dalam hal ini. Trus… kenapa kok gw bilang bos gw ini cukup bijaksana? Kan dia juga nolak permintaan gw! Eh… tunggu dulu, sebenernya dia ga nolak permintaan izin gw mentah-mentah kok. Awalnya gw pikir putuslah sudah harapan gw buat ikut seminar seharga 2 setengah juta ntuh, namun setelah bos gw mengajukan beberapa pertanyaan dan pernyataan, ternyata kejujuran gw ga sia-sia. Pada dasarnya dia setuju kalau gw ikut dan hadir dalam seminar itu, hanya saja dia ga bisa memberikan izin secara formal, yang tentunya ada konsekuensi yang harus gw terima kalau gw ga masuk pada hari itu (potong gaji – potong gaji dah… hahaha… nasib..nasib.. hehehe..). sebagai seorang bos dia pun benar-benar memperhatikan kesejahteraan dan kepentingan para karyawannya. Sampai akhirnya keputusan yang dia berikan kepada gw adalah dia tidak bisa melarang gw untuk tidak pergi dan juga tidak dapat memberikan izin untuk tidak masuk kerja. Hmmm.. namun, pada dasarnya dia menyetujui keputusan gw untuk hadir dalam seminar itu (baik kan bos gw!!! Hore.. ikut seminar.. ikut seminar.. gratisan .. hahaha…) walaupun kemungkinan ada potongan gaji dan lain sebagainya, gw tetap saja menghormati keputusan bos gw. Terlebih lagi gw berterima kasih atas kesempatan dan kepercayaan yang dia berikan buat gw. Seketika gw jadi tambah bersemangat dalam berkerja, dan yang terpenting gw sudah lega karena telah mengatakan serta mengungkapkan maksud dan tujuan gw dengan sejujur-jujurnya. Thx Bos!
Selfy Parkit’09

Sabtu, 16 Mei 2009

Bangkai Tikus

Oleh Selfy Parkit


Kekesalan ini membawaku kepada kemarahan. Beberapa hari yang lalu di kamarku terjadi sesuatu yang menghebohkan. Di sore hari ketika aku sedang menikmati istirahatku tiba-tiba adik perempuanku berseru sambil memprotes dan memecahkan keheningan tidur soreku. “Bau..” begitu katanya, kamarku bau tikus mati alias bangkai tikus. Aku yang akhirnya terbangun dari tidurku berusaha dengan keras menarik nafas, mencari tahu kebenaran kata-kata adik perempuanku. “Mana, ga bau kok!”, seru ku sambil mengendus-enduskan hidungku. Lalu, karena sudah terbangun dari tidur, tak ada lagi yang dapat aku lakukan di kamarku selain berbaring. Namun karena bosan dan tak tahu lagi apa yang harus aku perbuat aku pun beranjak meninggalkan kamar tidurku dan lari ke ruang tamu. Aku duduk dengan tenang sambil menonton televisi acara reality show. Beberapa saat kemudian perut ini terasa lapar dan meminta jatah hariannya. Aku pun mengisi perut ini tanpa lagi memikirkan si bangkai tikus yang bau itu, yang sedang menyebarkan kebauannya di dalam ruangan kamarku yang cukup kecil itu. Selesai bersantap sore, sekali lagi aku diributkan oleh gerutuan-gerutuan adik perempuanku persoalan bau yang masih saja sama. “Kenapa masih saja menggerutu! Ya, dicari dong di mana bangkai tikusnya.” kataku sambil menghampirinya. “Besok aja, udah sore ribet.” Jawab adikku enteng. “Kalau ntar mau tidurnya bau-bauan, ya udah!” seruku cuek. Lalu ketika berpikir sejenak, adikku ini pun masuk ke dalam rumah, dan tak lama kemudian ia pun berteriak memanggilku, “Kak, cepetan sini bantuin aku dong!” Ternyata seketika pikirannya pun berubah, tak mau menunggu waktu yang ada untuk menyelesaikan permasalahan bau yang mengganggunya. Apalagi tidur bersama dengan bau yang menyengat dan membangkitkan selera untuk marah-marah menyalahkan tikus yang sudah mati itu.

Sedikit demi sedikit dan satu persatu dikeluarkannya barang-barang yang ada di kamar tempat tidur kami itu. Mulai dari meja kecil, rak-rak buku, kardus-kardus bekas miliknya yang ternyata sudah tak terpakai lagi sampai dengan lemari yang kurang lebih isinya buku-buku dan barang-barang lainnya pun mendapat giliran untuk berpindah dari tempatnya. Setelah sebagian besar dari barang-barang tersebut sudah keluar dari kamar, seketika bau bangkai tikus itu pun sudah tidak tercium lagi di dalam kamar kami, melainkan pindah menyebarkan aromanya di ruang tamu tempat kami menaruh barang-barang tersebut. Sebagian dari orang-orang di rumahku mulai heboh, ada yang berpendapat ini dan itu, ada yang mengusulkan ini dan itu. Namun tak satu pun dari mereka yang turun tangan untuk membantu, karena takut akan melihat bangkai tikus yang jelas-jelas sudah tentu mati. Dengan gerutuan yang masih saja mendesis, di tambah lagi dengan rasa sedikit takut dan geli, adikku pun perlahan-lahan mencari-cari bangkai tersebut. Dibongkar dan dipisahkannya barang-barangnya yang sudah tak terpakai itu untuk dikumpulkan. “De, lebih baik barang-barang yang tak dipakai itu dibuang saja, atau kalau ada barang yang masih layak pakai tapi tidak dibutuhkan lagi lebih baik dikasih orang saja!” teriakku sambil membersihkan barang-barang yang ada di dalam kamar dan merasa kesal mendengar gerutuan-gerutuan adikku yang tak ada habisnya itu, ‘Bukannya di cari malah menggerutu terus’ pikirku. Saat itu kemarahan pun mulai timbul dan hampir memecahkan pengendalian diriku. Terlebih lagi melihat kamar kami yang memang agak sedikit berantakan karena sudah lama tidak mengalami pembersihan besar-besaran membuat beban pikiranku semakin bertambah. Mengapa selama ini masing-masing dari kami selalu saja melemparkan tugas dan tanggung jawab untuk membersihkan kamar tersebut, saat itu aku mulai menyesalinya.

Satu persatu barang yang sudah tak bermasalah dan tak ada bangkai tikus di dalamnya dimasukkan kembali ke dalam kamar, begitu juga dengan barang-barang yang tak terpakai, dikumpulkan dan dibuang ke dalam tong sampah. Dengan begitu akan semakin mudahlah pencarian bangkai tikus kami. Sampai akhirnya teriakan histeris pun terdengar di tengah-tengah ruang tamu. “Ah..ah.. ka, ini-ini bangkainya sudah ketemu!”, seru adikku sambil meringis kegelian dan menunjuk-nunjuk ke arah bangkai tersebut. Bangkai dari anak tikus yang baunya dipermasalahkan itu bersembunyi di dalam keranjang tumpukan pakaian kotor. Seketika rasa kesal kami pun lenyap bersamaan dengan dibuangnya bangkai tikus kecil yang menyebarkan bebauannya itu, sebau rasa kesal kami yang akhirnya menyebabkan kemarahan. Dengan begitu, kamar kami pun terbebas dari bau-bau yang menyengatkan. Namun, tidak dengan pikiran kami yang masih suka terusik dengan kekesalan dan kemarahan hanya karena bau dari bangkai seekor tikus.

Sesungguhnya bangkai tikus itu seperti kekotoran batin di dalam diri kita yang harus dibersihkan. Untuk membersihkannya kita harus sabar dan perlahan-lahan mencari tahu dan mengenali si kekotoran batin tersebut hingga akhirnya bisa kita bersihkan yaitu dengan belajar dan berlatih atau mempraktikannya. Di dalam pelatihan dan pembelajaran itu, kita akan banyak menemukan hal atau ajaran dan orang-orang yang akan memberikan petunjuk dan saran-saran. Akan tetapi, tak banyak dari mereka yang bisa dan mau turun tangan untuk membantu kita dalam membersihnya. Kita sendirilah yang harus lebih giat berusaha dan tidak selalu menggantungkan diri terhadap makhluk lain. Selain itu juga akan ada banyak ajaran-ajaran yang mengaku kebenaran, yang mendorong kita untuk berpikir lebih bijaksana. Hingga akhirnya kekotoran batin tersebut bisa kita buang dari batin ini dan kebahagiaan pun akan datang mengisinya. Namun, jangan sampai bau dari bangkai tikus itu kembali merusak kebahagiaan kita.

Thanks to My MoM&Friends

PERUBAHAN


Tertegung sendiri melihat lalu-lalang orang yang keluar masuk bioskop membuatku sedikit terhibur. Dikala ku menunggu seseorang walaupun tak special, tetapi sangat berarti dan kukasihi, membuat waktu terasa lama. Sedetik seakan satu jam bila pikiran mulai gelisah. Di dalam keresahan itu sepintas ingatan menghampiri dan menyapaku untuk masuk ke dalamnya. Kenangan manis, masa kecil yang indah, ingatan yang memalukan, sampai dengan keadaan berat yang Aku hadapi akhir-akhir ini, semua hadir memenuhi pikiranku. Aku tak tahu seberat apakah masalah yang Aku hadapi, karena sebagian orang mungkin menganggap hal ini hanyalah sebuah masalah. Kadar dan tingkatnya suatu masalah memang tergantung dari personal masing-masing, tapi yang ku alami mungkin terlalu berat bagiku.

Sebagai anak dari seorang pengusaha kaya yang baru saja jatuh miskin, ini pertama kalinya Aku merasa duniaku akan berakhir dan Aku seakan ditinggalkan oleh semua orang yang ku kenal. Namun disela kesedihanku, Aku berusaha untuk tetap merasa tegar dalam mengatasi hal-hal tersebut. Walaupun rasa sakit bergejolak di dalam dadaku, Aku mencoba untuk tetap tenang dan berpikir, menangis bukanlah sebuah jawaban. Tetapi, sebagai insan biasa yang masih memiliki berjuta emosi Aku pun tertunduk tak berdaya. Kian lama kian hari keputuasaan mulai bermunculan, keegoisan mulai berdatangan, emosi mulai menguasai diri, sampai akhirnya sedikit pun Aku tak mengenal siapa diriku dan apa yang terbaik untukku. Aku meraba-raba, mencari sana dan sini, di manakah kebenaran yang sesungguhnya, di manakah kedamaian berpijak, dan di manakah akhir dari penderitaanku ini. Sampai akhirnya Aku menyadari di sinilah hukum perubahan berperan. Semua yang pernah Aku pelajari dan ketahui seakan hilang pada detik-detik di mana kesadaranku mulai melemah. Ternyata semua itu hanyalah konsep-konsep yang tidak tertanam di dalam sanubariku, hingga akhirnya terlupakan. Begitu pula dengan masalah dan penyakit batin yang menghantuiku, muncul lalu lenyap dan terlupakan untuk sesaat. Kemudian muncul kembali dengan segudang tantangan yang harus dihadapi. Fenomena yang tidak akan berhenti sampai Aku dapat menyelesaikannya.

Ingatanku tertarik kembali pada sebuah jam yang ada di pergelangan tangan kiriku, waktu menunjukan lima belas menit sudah berlalu dan Aku semakin gelisah. “Ah… ada apakah gerangan dengan Abang angkatku itu!”. Pembawaannya yang cuek membuatku sedikit khawatir kalau-kalau dia sengaja membuatku menunggu lama di sini dan bukan hanya itu saja, sifatnya yang jahil bisa saja membuatnya mengerjaiku untuk semalaman menungguinya di bioskop. “Tetapi tidak mungkin Abangku setega itu,” pikirku. Abangku orang baik, sifat dan pembawaan uniknyalah yang selama ini banyak membuatku terhibur, kurang lebih membuatku sedikit tersenyum. Karakternya yang hampir tak pernah serius, terkadang membuat dirinya kesulitan dalam berkomunikasi dan menyampaikan sesuatu yang sifatnya serius. Jika ia berbicara serius pada semua orang yang mengenalnya termasuk diriku, pastilah akan selalu bertanya-tanya di dalam hati, “Harun berbicara serius, atau bercanda ya?” Ada cerita lucu mengenai hal ini, yang akhirnya memberikan sebuah pelajaran berarti buat si Abangku itu. Alhasil si Abang mencintai seorang gadis yang merupakan teman dekatnya dan berniat mengatakan cintanya kepada si gadis tersebut. Tiap kali si Abang mengutarakan isi hatinya, si gadis selalu tersenyum tak percaya kepada ucapannya. Setiap mendengar kata “Aku cinta kamu, I love you, aishiteru, wo ai ni, aku tresno karo koe!” atau apalah kata-kata si Abang, si gadis hanya akan tertawa dan menganggap si Abang cuma berusaha menghibur dirinya. Menyakitkan memang bagi si Abang. Namun itulah kenyataannya, si Abang harus menerima hasil yang ditanamnya karena keseringannya bercanda. Lalu apa yang terjadi dengan kisah cinta si Abang? Cinta yang sempat terucapkan, namun tak pernah tersampaikan. Sampai saat ini si Abang hanya bisa memendam perasaan yang sesungguhnya. Canda dan banyolan si Abang selalu mengisi hari-hari setiap orang yang mengenalnya. Walaupun terkadang ada saja orang yang menganggapnya menjengkelkan karena usil dan jahilnya itu tidak pernah ketinggalan, namun aku mengerti sepenuhnya karakter dan kondisi Abang angkatku ini. Meskipun kami berbeda agama, namun kami saling menghormati. Dia sangat rajin beribadah menurut keyakinannya, Aku pun aktif beribadah menurut agama dan keyakinanku sendiri. Akan tetapi, hal ini tak pernah menjadi penghalang bagi hubungan kami sebagai kakak dan adik angkat.

Lalu-lalang kendaraan, bunyi mesin kendaraan dan dentaman-dentaman klakson mobil menambah riuh perasaanku. Aku pun menghela napas untuk sesaat berharap semuanya akan baik-baik saja, karena baru saja sepintas pikiran buruk mengusik ketenanganku. Kecelakaan motor tadi sore masih melekat dan terekam jelas di dalam ingatanku, rasa takutku mengatakan kalau-kalau terjadi sesuatu yang buruk pada si Abang. Aku menarik nafas dan berdoa menenangkan pikiranku, karena hal inilah yang selama ini membantuku mengatasi masalah-masalahku. Menenangkan pikiran dapat membuatku berpikir logis, ‘Inilah hal yang harus Aku hadapi dan terima dengan lapang dada, yang tentunya memerlukan semangat yang luar biasa’. Aku teringat pada salah satu orang bijak yang pernah berkata: “Semangat dan keuletanlah yang patut dipuji dari seseorang,” dan inilah yang mulai aku tanamkan di dalam lubuk hatiku.

Dua puluh menit hampir berlalu, di manakah si sawo matang kurus berambut cepak itu? Dia tak jua kunjung datang. Hiruk pikuk orang yang keluar masuk bioskop hampir tak ada, karena waktu pemutaran film segera dimulai. Kulayangkan pandanganku ke kiri dan kanan jalan raya, namun yang ditunggu belum juga kelihatan. “Ah… apa ini kado terindah yang Abangku janjikan di hari ulang tahunku!!” gerutuku gerang. Aku hampir saja sedikit kesal, sampai akhirnya Aku berpikir lebih baik minum soft drink daripada menyimpan api di dalam dada yang malah akan menambah panas dan haus tenggorokanku. Akupun bergeser sedikit ke kiri tanpa mengangkat bahuku, membalikkan badanku dan menyapa pemilik warung kecil yang tampaknya cukup ramah. Warungnya terlihat rapih dan masih tercium bau cat pada warna birunya, menandakan warung itu baru saja direnovasi. Walaupun kecil warung yang letaknya di pinggir jalan ini terlihat komplit dan memiliki apa saja yang dibutuhkan pembeli sehari-harinya.

“Pak, minta soft drinknya satu!”, sahutku seraya si Bapak gemuk pemilik warung itu segera mengambil sebotol minuman dingin dan memberikannya kepadaku. Tersungging senyuman manis di bibir laki-laki ramah yang raut wajahnya mulai mengeriput itu. Aku pun membalas senyumannya dan memberikan sejumlah uang seharga minuman tersebut.

“Terima kasih yah Neng!” Kata-kata itulah yang menutup percakapan kami, yang mungkin saja tidak akan Aku temukan di tempat lain. Perkataan itu telah sekian kalinya kudengar, bukan satu atau dua kalinya terucap dari bibir si pemilik warung tersebut. Tiap kali ada orang yang datang untuk membeli ataupun hanya melihat-lihat dan tak jadi membeli, si Bapak pemilik warung akan mengucapkan terima kasih. Melihat keramahan dan senyuman si Bapak tadi membuatku sedikit tersadarkan, bahwa perlunya kita mensyukuri apa yang kita miliki saat ini. Seperti halnya rasa dan kata terima kasih yang diucapkan si Bapak pemilik warung itu, membuktikan bahwa betapa besarnya rasa syukur di dalam dirinya dan semangat juang dalam menghidupi keluarganya, yang hanya dengan berusaha warung kecil-kecilan. Entah sedikit atau pun banyak rejeki yang ia terima, ia akan selalu berterima kasih dan mensyukurinya. Seketika itu terlintas di benakku, ‘Lebih baik mensyukuri saat ini daripada menggerutu karena kesal, Abangku sudah senang hati mengajakku nonton, sudah seharusnya Aku berterima kasih untuk itu dan bukan menodainya dengan umpatan-umpatan ataupun sumpah serapah yang menyakitkan’. Menyadari hal ini hatiku terasa lega dan merasa bahagia, benarlah kata apa yang dikatakan oleh Buddha Gotama bahwa Dhamma ada di sekitar kita, dan kebahagiaan ada di dalam diri kita masing-masing.

Kuteguk minuman itu sedikit demi sedikit, hingga rasa hausku pun mulai terobati, sampai akhirnya terlihat sesosok laki-laki kurus dengan motor bebeknya yang berwarna hitam, sehitam jaket yang dikenakannya datang menuju dan memenuhi pandanganku. Terlihat sebuah helm tutup yang digantungkan dan dimasukkan ke pergelangan tangan kirinya. Dengan kedua tangannya memegang stang dan sebuah ransel merah di belakang pundaknya, si pengendara motor itu pun menghentikan motornya tepat di mana Aku sedang duduk menunggu. Setelah dua puluh lima menit lamanya, akhirnya sang kakak yang ditunggu datang juga. Diraut wajah yang kelihatannya lelah itu, terukir senyuman minta maaf di bibirnya, seraya membuka sebuah ransel berisikan sesuatu yang dibungkus rapih. Disodorkannya bungkusan rapih itu kepadaku, sambil berkata, “Dah lapar yah?, nih Abang beliin nasi goreng buat ade di jalan.”

“Ah…dikirain kado, kok sempet-sempetnya sih beliin nasi goreng, ade kan udah lama nungguin di sini. Udah dua puluh menit tau!” seruku sambil sedikit merengut.

“He..he..he.. siapa lagian yang nyuruh nungguin.” Jawab si Abang sambil menyeringai. “Tadi ban motornya bocor, jadi selama nunggu, beli nasi goreng dulu.”

“Oh… terus nasi gorengnya mau dimakan sekarang? Filmnya sebentar lagikan mau dimulai.!”

“Udah ntar makannya didalem aja, ayo masuk!”

“Emangnya bisa!?”

Akhirnya rasa resah dan gelisah yang berkecamuk di dalam pikiranku, bersamaan dengan itu seakan hilang dan Aku tidak akan pernah tahu kapan mereka akan kembali menghantuiku. Timbul, berlangsung, dan tenggelam adalah hal yang biasa, seperti halnya pemutaran film saat itu, dimulai, berlangsung, dan akhirnya selesai. Namun berakhirnya segala sesuatu bukan untuk ditangisi atau pun disesali, tetapi harus disyukuri apapun hasilnya. Seperti halnya si pemilik warung yang selalu berterima kasih dan mensyukuri atas apa yang dimiliki dan diterimanya.

Thanks ToMyMoM

By. Selfy Parkit