Jumat, 11 September 2009
Hasil Translatetan Brosur
Konferensi Internasional ke-11 Perempuan-perempuan Buddhis
“Perempuan-perempuan Buddhis unggulan”
Ho Chi Minh City . Vietnam
28 Desember 2009 – 03 Januari 2010
Sakyadhita dengan gembira mengumumkan Konferensi Internasional Sakyadhita yang ke-11 Perempuan-perempuan Buddhis, diselenggarakan di Ho Chi Minh City dari tanggal 28 Desember 2009 – 03 Januari 2010. Tamasya wihara di sekitar Ho Chi Minh City akan diadakan untuk tanggal 04 – 05 January. Falkutatif tamasya ke Hue dan Hanoi akan tersedia dari tanggal 06 – 10 Januari.
Mengenal Vietnam
Menurut legenda, orang-orang Vietnam merupakan keturunan dari seekor naga dan peri. Ahli purbakala mengatakan kepada kita bahwa manusia telah bermukim sekurang-kurangnya 400.000 tahun. Suatu masa keemasan dari kebudayaan Dong San dituliskan selama masa seribu tahun pertama Sebelum Masehi, diikuti oleh masa seribu tahun kekuasaan Han dan kebudayaan Feodal. Setelah abad ke 10 Masehi, Negara ini maju pesat di bawah disnasti orang-orang vietnam yang dipusatkan berturut-turut. Negara Perancis menyerbu di tahun 1858 dan memerintah negara tersebut dari tahun 1884 sampai dengan tahun 1945, ketika Republik Demokrasi Vietnam menyatakan kemerdekaannya dari kedua negara yaitu Perancis dan Jepang. Negara Vietnam menderita 30 tahun dalam peperangan dan akhirnya bersatu kembali pada tahun 1975.
Berbatasan dengan Kamboja, Laos, Cina dan Laut Cina Selatan, daratan Vietnam termasuk 1000 mil (1.400 Km) garis pantai tropis, pengunungan hijau, dan tanaman padi yang berkilauan. 87 juta orang dari populasi merupakan kumpulan dari 54 suku yang menciptakan sebuah kaleidoskop banyak orang, kebudayaan dan agama-agama.
Pengaruh Kebudayaan orang Vietnam pribumi, Cina, Cham dan Perancis terjalin ke dalam seni, tarian-tarian latar yang komplek, Pewayangan biasa, kesenian/opera rakyat, musik kuno yang dimainkan di ruangan kecil, melukis kain sutra, arsitektur, dan berbagai macam tarian nasional.
Masakan orang Vietnam unik, menyenangkan dan lezat! Bersama-sama dengan berbagai macam pilihan masakan non-vegetarian. Pengaruh Buddhis sudah menambah banyak hidangan utama. Vegetarian dan hidangan tambahan dengan memasukan kuah/saus. Ada sebuah penekanan pada kesegaran, dengan kelembutan dan rasa yang seimbang. Masakan Kari orang Vietnam, membungkus berbagai macam, sup mie, hidangan nasi, dan roti asal Perancis yang berlimpah.
Kebudayaan spiritual Vietnam meliputi Buddhisme, Taoisme, Konfusius, Katolik, dan agama tradisi pribumi seperti Cao Dai dan Hoa Hao. Lebih dari 60 persen orang-orang Vietnam mengikuti beberapa bentuk praktik Buddhis, termasuk Therawada, Mahayana dan tradisi Mendicant (tradisi dimana para biarawan-biarawatinya hidup dari sedekah).
Buddhisme di Vietnam
Buddhisme disebarkan ke Vietnam pada abad pertama Sebelum Masehi, ketika para bhikkhu tiba dari India Selatan melalui jalan laut, dan di abad kedua , ketika para Bhikkhu tiba dari Cina melalui daratan. Gelombang arus lainnya terjadi pada abad keenam yaitu ketika kerajaan Khmer didirikan di dekat Hue di pusat Vietnam. Over time, Dua garis sisilah Zen (Thien) didirikan di Vietnam, satu dari India dan lainnya dari Cina. Di tahun 1115, Dieu Nhan menjadi seorang bhikkhuni asal Vietnam pertama dan mendirikan sanggha bhikkhuni di Vietnam. Tempat tinggal orang-orang Vietnam sering memajang gambar-gambar dan sutra-sutra yang dipersembahkan kepada Quan Am, welas asih Bodhisattwa.
Buddhisme orang-orang Vietnam sangat bermacam-macam. Orang-orang dari utara cenderung lebih tertarik pada praktik Thien (Zen), sementara orang-orang dari selatan cenderung memilih Dao Tang (Tanah Suci). Sepanjang perbatasan Kamboja ke bagian barat daya, ada banyak komunitas Therawada, dengan pada bhikkhu berjubah kuning tua, dan para bhikkhuni yang melanjutkan keseharian mereka dengan keliling meminta sedekah. Bhikkhu dan bhikkhuni pribumi tradisi Mendicant berpakaian dengan jubah warna kuning. Setiap tradisi mempunyai jenis puja bakti (Chanting)tersendiri dan penanggalan aktif festival/ perayaan Buddhis sepanjang tahun. Di Vietnam, praktisi wihara menikmati penghormatan yang besar. Bhikkhuni mendapatkan jalan masuk yang sama untuk pendidikan Buddhis dan pentahbisan secara penuh, juga sangat aktif di dalam pekerjaan kesejahteraan sosial.
Lokasi Konferensi
Konferensi internasional perempuan-perempuan Buddhis Sakyadhita yang ke-11 akan diadakan di Universal Light Monastery di pusat kota Ho Chi Minh (dahulu dikenal sebagai Saigon). Kota besar yang sibuk ini terletak di tepi sungai barat Mekong, salah satu sungai yang terbesar dan terindah di Asia. Ho Chi Minh City adalah pusat perindustrian dan perniagaan Vietnam. Sebagai tambahan dari banyaknya kuil-kuil dan pagoda-pagoda yang indah, kota ini juga disibukan oleh banyaknya kendaraan bermotor, mobil, pabrik, restoran, dan perdagangan. Orang-orang Vietnam berbicara bahasa yang menggunakan gaya suara (Tonai) dituliskan ke dalam abjad fonetis barat. Walaupun bahasa Vietnam aslinya ditulis dalam huruf Cina, sekarang ini hanya para pelajar dan orang-orang dari wihara saja yang dapat membaca dan menulis dengan huruf-huruf tersebut. kebanyakan dari para anak-anak muda berbicara sedikit berbahasa Inggris, para kaum tua kemungkinan berbicara dalam bahasa Perancis,dan orang-orang Vietnam keturunan Cina kemungkinan berbicara dalam bahasa Cina.
Perjalanan ke Vietnam
Kota Ho Chi Minh pada bulan Desember dan Januari bisa sangat panas dan lembab selama siang hari dengan suhu mendekati 95 F (32 C). Suhu pada malam hari dan subuh (pagi-pagi sekali) bisa sangat dingin dan berkabut, mencapai sama rendahnya dengan 60 F (15 C). Suhu di utara sangat lebih dingin.
Semua pendatang di Negara Sosialis Republik Vietnam (Socialist Republic of Vietnam) akan membutuhkan passport (berlaku untuk sekurang-kurangnya enam bulan dari tanggal catatan masuk) dan visa. Hubungi kedutaan besar Vietnam di negaramu untuk informasi mengenai syarat-syarat dan pengajuan visa. Jangan lupa menyediakan cukup waktu untuk proses pengolahan.
Tema Konferensi
Tema konferensi “Perempuan-perempuan Buddhis Unggulan”, akan menyoroti prestasi-prestasi dari para perempuan Buddhis di sekeliling dunia. Sampai saat ini, para perempuan sebagian besar ditinggalkan dari sejarah Buddhis. Sejak tahun 1987 para anggota Sakyadhita sudah membuat usaha yang sungguh-sungguh untuk mendorong penelitian mengenai kehidupan dan prestasi-prestasi para upasika (perempuan umat awam) dan bhikkhuni di dalam masyarakat Buddhis. Konferensi Sakyadhita yang ke-11 akan mendorong penelitian dan pemikiran lebih jauh lagi mengenai pencapaian prestasi ini.
Topic Lokakarya
Pergerakan Dharma, Tindakan dalam Kesadaran Penuh (Dharma in Motion, Mindfulness in Action)
Perbedaan : Tradisi-tradisi Meditasi (Diversity: Meditation Traditions)
Kepemimpinan untuk Kelompok Para Perempuan Buddhis (Leadership for Buddhist Women’s Groups)
Anak-anak Bersama Dharma : Timur dan Barat (Dharma with Children: East and West
Komunikasi yang Berwelas Asih (Compassionate Communication)
Mengerti Kekerasan Rumah Tangga (Understanding Domestic Violence)
Mengikutsertakan Para Upasika Dalam Kemasyarakatan (Engaging Buddhist Laywomen).
Tarian Kesadaran Asia: Pengaruh Kebudayaan di Sepanjang Jalan Buddhis (Mindful Asian Dance: Cultural Impact along the Buddhist Path)
Transformasi/ Perubahan Konflik (Conflict Transformation)
Jadwal Harian
27 Desember Tiba di Ho Chi Minh City
28 Desember Upacara pembukaan
29 Desember – 02 Januari Sesi konferensi: Meditasi, ceramah, diskusi dan lokakarya
03 Januari Upacara penutupan
04 – 05 Januari Tamasya wihara di sekitar Ho Chi Minh City
06 – 10 Januari Tamasya fakultatif ke Hue dan Hanoi
Biaya Konferensi
Biaya pendaftaran konferensi 50 Dollar Amerika (US $50)uang tak dapat dikembalikan.
Batas Akhir Pembayaran
Pendaftaran harus diserahkan pada tanggal 1 Oktober. Tempat terbatas, jadi pastikan untuk mendaftar lebih awal.
Topik Diskusi
Kepemimpinan dan Perempuan-perempuan Buddhis
Perempuan-perempuan Unggulan Dalam Sejarah Buddhis
Para Guru Perempuan-perempuan Buddhis: umat awam dan yang sudah ditahbiskan
Percakapan Lintas Kebudayaan
Keikutsertaan Bermasyarakat Para Perempuan Buddhis
Dharma Lintas Generasi dan Budaya
Perempuan-perempuan Buddhis dan Kemiskinan Dunia
Mengajarkan Dharma di dalam Penjara
Perempuan-perempuan Buddhis dan Berbagai Macam Gaya Hidup
Pendidikan Buddhis dan Lintas Kebudayaan
Hidup Sederhana, Menjaga Lingkungan
Bagaimana Saya Dapat Membantu?
Mensponsori seorang bhikkhuni atau upasika dari negara berkembang untuk menghadari konferensi! Hanya dengan bantuan Anda perempuan-perempuan dari Banglades, Bhutan, Birma, Kamboja, India, Laos, Monggolia, Nepal, Thailand atau Sri Lanka akan mendapatkan kesempatan ini. Konferensi Sakyadhita berpengalaman mengasuh dan mendorong para perempuan untuk menjadi para pemimpin bagi komunitas mereka.
Tak mampu menghadiri konferensi seorang diri? Berikan bantuan untuk seorang bhikkhuni dan upasika yang layak ditolong untuk menghadiri! Semua yang mereka butuhkan adalah sebuah tiket penerbangan. Para umat Buddha Vietnam yang baik akan mengatur makanan, akomodasi, pendaftaran, dan tamasya wiharanya! Tak mampu membantu secara finansial? Sakyadhita menerima dengan senang hati bantuanmu dalam bentuk perencanaan konferensi.
Fomulir Pendaftaran
Biaya pendaftaran: $50
(sudah termasuk makan, tidak termasuk akomodasi)
Makanan (28 Desember – 3/5 Januari), pilih salah satu:
Sarapan, makan siang, dan the
Sarapan, makan siang, the dan makan sore
Saya tertarik untuk ikut akomodasi
$40/malam r 30$/malam r $20/malam
$10/malam r Satu kamar (Single room) r Dua kamar (Double room)
Saya ingin berbagi dengan___________________________________________
Pergantian Airport tanggal 27 Desember
Tamasya wihara tanggal 4 – 5 Januari
Tolong kirim informasi mengenai falkutatif tamasya ke Hue dan Hanoi pada tanggal 6 – 10 Januari
Membantu mensponsori seorang perempuan dari sebuah negara berkembang
$30 r $50 r $100 r $200 r $500
$800 r Lainnya___________
Saya ingin mensponsori r bhikkhuni r Upasika dari ____________________ (negara/tradisi) $ ________ total jumlah yang terlampir
Saya dapat menyumbangkan bakat-bakat dan ide-ide di bawah ini:
______________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________
Nama:______________________________________________________________________Alamat:_______________________________________________________________________________________________________________________________________________Negara:____________________________________________________________________Telephone/Fax:_____________________________________________________________Email:_____________________________________________________________________________
Sakyadhita
International Association of Buddhist Women
923 Mokapu Blvd
Kailua, HI 96734 U.S.A
Email: Sakyadhita@gmail.com
www.sakyadhita.org
Kalimat Sakti
Misalnya, tiba-tiba saja kita harus bertemu dengan orang yang menyebalkan dan terus mengganggu, atau kita harus menghadapi sms-sms iseng yang isi pesannya tidak layak dibaca, mungkin juga kita harus menghadapi bos kita yang suka marah. Tentunya hal-hal tersebut bisa saja membuat kita merasa lelah dan tak nyaman. Ingin menyingkirkan orang-orang tersebut seketika dari hadapan kita. Tapi apakah dengan begitu kita merasa hidup kita akan tenang dan bahagia selamanya? Tentu tidak, karena kita akan terus menghadapi hal serupa di dalam hidup kita. Tapi coba aplikasikan kalimat sakti di atas! “Kalau tidak ada mereka dunia ini tidak menarik”. Karena ada merekalah hidup kita menjadi warna-warni.
Pelajaran: kebahagiaan tergantung bagaimana kita memandangnya
Sabtu, 29 Agustus 2009
SAKIT
Ketika sedang sakit, umumnya setiap orang merasakan hari yang dilaluinya terasa lebih sepi, suram, dan membosankan.
Sesungguhnya banyak dari kita yang terkadang sering berpikir untuk tidak menjenguk teman kita yang sedang sakit dengan salah satu alasan yaitu takut mengganggu teman kita yang perlu beristirahat. Padahal kebanyakan dari mereka yang sedang sakit sungguh sangat mengharapkan teman, keluarga, saudara dan orang-orang yang disayangi, bisa datang dan menghibur mereka. Walaupun, ada beberapa diantara mereka yang memang tidak suka dijenguk ketika mereka sedang sakit. Lain halnya dengan keadaanku saat itu, kesepian dan kebosanan yang Aku rasakan membuatku berpikir ‘senang rasanya jika ada satu atau dua orang temanku yang datang untuk menjengukku’. Namun, tidak dipungkiri pula bahwa ada kalanya bagi mereka yang sakit memang membutuhkan waktu untuk beristirahat. Untuk itu, jika saja setiap teman-temanku berdatangan dari jam ke jam hanya untuk memberikan makanan atau buah-buahan dan mengucapkan semoga lekas sembuh, Aku rasa Aku akan lelah juga, pikirku. Sebenarnya bukan ucapan semoga lekas sembuh yang Aku harapkan saat itu, apalagi mengharapkan makanan dan buah-buahan tentunya. Tetapi, perhatian dan hiburan merekalah yang benar-benar membuatku seakan-akan sehat kembali seperti sediakala. (Dalam hal ini bukan berarti makanan dan buah-buahan itu tidaklah penting, malah sangat dianjurkan. Ha..ha… ).
Ini bukti nyata bahwa orang yang sedang sakit amatlah membutuhkan hiburan yang mampu membuat mereka tertawa, bukan kata-kata turut prihatin saja atau perasaan sedih dan menyesal karena melihat mereka yang sedang sakit. Namun dari itu semua, menjenguk orang yang sedang sakit adalah baik. Terlebih lagi jika kita bisa merawat si sakit, itu merupakan hal yang dipuji oleh Buddha. Dulu pada zaman Buddha Gotama ada seorang bhikkhu yang menderita disentri dan berbaring lemah di tempat yang telah dihamburi tinjanya sendiri. Buddha dan Ananda yang sedang mengunjungi tempat itu menjenguk bhikkhu tersebut, seraya berkata :
“Bhikkhu, apa yang terjadi padamu?”
“Saya menderita disentri.”
“Apa tidak ada yang merawatmu?”
“Tidak ada, Bhante.” jawab si bhikkhu yang sedang sakit.
“Kenapa para bhikkhu tidak merawatmu?”
“Karena saya tak berguna lagi bagi mereka, Bhante.”
Lalu, Buddha berseru pada Ananda, “Pergi dan ambillah air, kita akan memandikan bhikkhu ini.”
Dengan demikian, Ananda mengambil air ; sementara Buddha menuang air, Ananda mencuci seluruh badan bhikkhu itu. Dengan mengangkatnya pada kepala dan kakinya, Buddha dan Ananda membaringkannya kembali ke pembaringannya. Kemudian, Buddha memanggil seluruh bhikkhu dan bertanya kepada mereka :
“Wahai para bhikkhu, kenapa engkau tidak merawat bhikkhu yang sedang sakit itu?”
“Sebab sudah tidak berguna bagi kita, yang mulia.”
“Kamu sekalian tidak mempunyai ayah dan ibu lagi yang akan merawatmu. Bila kamu sekalian tidak saling merawat siapa yang akan melakukannya? Siapa yang merawat Daku (Buddha) hendaknya merawat pula mereka yang sakit.”
Begitulah Buddha berkata, bahwa merawat orang yang sakit itu sama halnya dengan merawat Buddha. Lalu, Buddha pun menunjukkan nilai-nilai yang hendaknya dimiliki seseorang yang berkeinginan merawat orang sakit, sebagai berikut :
Dengan 5 (
1. Dia menyiapkan obat;
2. Dia mengetahui mana yang baik dan mana yang tidak baik, yang baik ditawarkannya dan yang tidak baik tidak ditawarkannya;
3. Dia merawat si sakit dengan cinta-kasih dan tanpa pamrih;
4. Dia tak tergoyahkan oleh tinja, kencing, muntah dan ludah;
5. Dari waktu ke waktu dia mengajarkan, memberi wawasan, menghibur serta memberinya kepuasan batin dengan membicarakan Dhamma.
Sakit yang positif
Setelah beberapa hari, Aku pun sembuh dari sakit. Aku sudah bisa jalan-jalan, makan dengan menu normal dan yang terpenting Aku sudah bisa mandi. Maklum disaat Aku sakit, mandi bukanlah lagi suatu kebutuhan tapi keperluan. Rasanya bahagia bisa melakukan rutinitas seperti sediakala. Rutinitas yang sebelumnya mungkin membosankan akan menjadi lebih menyenangkan ketika kita sembuh dari sakit. Dengan begitu, pada saat kita sehat dan mulai bosan pada kehidupan rutinitas kita sehari-hari, seharusnya kita mulai berpikir, bagaimana nanti jika kita sakit!?
Karena sudah mampu berjalan-jalan, kaki ini pun tak sabar menanti untuk digunakan sebagaimana fungsinya yaitu menapak dan melangkah keluar rumah. Hidung ini juga tak sabar ingin menghirup udara
Sesampainya di toko dan sesudah membeli barang yang dibutuhkan, Aku pun menjalankan niatku untuk berjalan kaki. Selangkah demi selangkah awalnya terasa mengembirakan, namun di tengah perjalanan kaki ini pun terasa berat. Badan ini terasa lelah dan capai, lalu semangatku pun mulai mengendur. ‘Wah Aku capai, mungkin ini karena aku baru saja sembuh dari sakit dan belum pulih benar’, pikirku. Sekejap saja rasa capai dan lelah yang begitu sedikit ini membuatku berpikir untuk segera memanjakan tubuhku. Aku pun mulai mengasihani diriku yang saat itu baru saja pulih dari sakit tetapi sudah berjalan kaki lumayan jauh dari rumah. Sejenak pemikiran-pemikiran itu membatasi semangatku yang awalnya begitu menggebu ingin berjalan kaki. Sampai akhirnya, Aku menyaksikan pemandangan di luar diriku yang menyadarkanku dan membuatku merasa malu. Pemandangan ini datang dari sosok laki-laki tua yang berjalan gontai dengan tongkat kayunya. Kulitnya hitam keriput dibungkus oleh pakaian hitamnya yang agak kumal dan ditutupi topi di kepalanya. Si orang tua ini pun dengan sangat pelan dan dibantu oleh sebatang tongkatnya berjalan dari toko ke toko meminta-minta belas kasihan, berharap orang yang dihampirinya bisa memenuhi kebutuhan hidupnya. Dia rela melangkahkan kakinya yang begitu berat dari satu toko ke toko lainnya yang belum tentu mau memberikannya uang, bahkan selogam uang receh pun. Dia juga rela mengumpulkan receh demi receh dengan keadaannya yang seperti itu, hanya untuk sesuap nasi sehari-harinya.
Dunia ini memang terlihat begitu kejam. Bayangkan saja seorang tua seperti itu, yang mungkin sedang sakit-sakitan masih dibiarkan berkeliaran di jalan raya oleh keluarganya ataupun saudaranya, hanya untuk sesuap nasi. Mungkin saja orang tua ini memang sudah tidak punya lagi sanak keluarga yang merawatnya. Namun, pemandangan di depan mataku ini memberikanku sebuah pelajaran hidup bahwa Aku seharusnya malu melihat si orang tua yang keadaan fisiknya jauh lebih buruk dari padaku, mampu dan mau berjalan tanpa mengeluhkan capai, lelah, berat serta kesakitan yang mungkin ada pada tubuhnya. Tidak seperti Aku yang masih mampu berjalan normal tanpa dibantu oleh sebatang tongkat penyangga pun, sudah berpikir dan mengasihani diriku sendiri hanya karena lelah berjalan sehabis sembuh dari sakit. Namun, ditengah-tengah rasa malu itu, Aku mulai menyadari bahwa betapa beruntung dan bersyukurnya Aku yang walaupun makan bubur, tetapi masih bisa makan tanpa harus meminta-minta di kala ku sedang sakit. Bukan hanya itu saja, Aku pun merasa sangat bersyukur karena ketika Aku sakit masih ada ibu, ayah serta saudara-saudaraku yang masih mau merawatku, tidak seperti si kakek itu.
Lalu kemanakah lenyapnya rasa syukur itu ketika kita sedang sakit? Rasa syukur itu seakan menghilang, seakan pudar oleh derita yang menurut kita teramat berat dan sulit, derita yang sesungguhnya teramat kecil di mata dunia. Terkadang kita lupa untuk mensyukuri hidup dan kehidupan kita di kala kita sedang menderita. Kita juga lupa kalau bersyukur itu artinya merasa bahagia atas apa pun kondisi yang datang dalam hidup kita, merasa bahagia atas apa yang dimiliki dan menghargai atas apa yang sudah kita dapatkan. Apakah hanya karena sakit rasa syukur itu menghilang? Apakah hanya karena penderitaan fisik rasa syukur itu pudar? Dunia begitu luas, penderitaan kita begitu kecil. Rasa syukur ini pun kembali membangkitkan semangatku untuk berjalan pulang menuju rumah. Ingin rasanya membantu si orang tua itu, namun apa daya Aku pulang tak berbekal satu sen pun.
Selfy Parkit’08,
Thanks to My Parents and all My Friends
Daftar pustaka :
Dhammika, Shravasti. Dasar Pandangan Agama Buddha. Cetakan kedua. Yayasan Dhammadipa Arama, Surabaya,
Behind the Scene of Being a Writer
Behind the Scene of Being a Writer
Pernah suatu hari ada seorang teman bertanya ke gw, lo mo jadi apa nantinya? Saat itu dengan mantap gw jawab, gw mo jadi penulis. Tetapi di dalam hati gw masih terukir tanda tanya besar “Apa bener???”, rasanya gw belom yakin, ga seyakin dengan pernyataan yang terlanjur gw ucapkan. Lah Wong cita-cita ini aja baru gw cetuskan sekitar setahun yang lalu, dan secara kebetulan tiba-tiba dapat kesempatan serta peluang untuk nulis n jadi penulis.
Berawal dari Diary.
Memang dari dulu gw dah hobi nulis, kerjaan gw di waktu luang ya apalagi kalo bukan nulis hal-hal yang ada di otak gw. Awal tulisan gw dimulai dari satu buah buku diary kecil, yang gw inget kalo ga salah buku itu adalah buku gratisan dari cap angin ‘Cap Elang’ punya nyokap gw yang udah ga terpakai. Karena nganggur ga ada yang gunain, ya gw ambil aja dari laci nyokap gw (he..he.. nah loh maen ambil aja ga bilang-bilang, maklum masih kecil
Curahan Hati
Ternyata dasar iseng menulis yang gw lakuin semasa SMP itu akhirnya terbawa juga sampai di SMK (Vocational High School), bahkan sampai sekarang. Waktu SMK gw mulai mencoba nulis-nulis cerita bersambung. Pernah juga cerita itu gw tunjukin ma temen-temen sekelas dan guru gw di sekolah. Karena masih penulis amatir, gw udah seneng banget kalo temen ato guru gw bilang ceritanya bagus (ga tau juga, kalo siapa tahu ternyata gw cuma diboongin aja buat menghibur diri haha…). Gw inget banget kalo ide cerita dari cerbung itu gw dapet dari mana, he..he… ide itu gw dapetin pada saat gw patah hati karena cowo yang gw suka, jadian ma temen deket gw (ha..ha.. siapa tuh???). Secara cowo itu dah lama banget bahkan bertahun-tahun yang lalu gw sukain, tapi emang dasar lugu ga ngerti bagaimana menghadapi perasaan sendiri, makanya kalo suka ma orang ga pernah nunjukin ato ngasih2 kode apa gitu. (Hahaha… sekarang juga lugu kok.. heheheee, owewek lugunya aja kaya gini gimana ga nya??? He..he ) Setelah cerita bersambung pertama yang gw buat yang serinya nyampe sekitar 40 halaman (diketik pula lagi dengan mesin tik), ternyata tercetus lagi ide gila di otak gw sampe akhirnya terciptalah cerita pendek pertama (idenya bukan dari patah hati lagi loh.. ha..ha.. patah hati melulu kasihan amat hahaha). Tapi sekali lagi sungguh sangat disayangkan kalo Anda mo tahu ceritanya apa, Anda tidak akan bisa membacanya (apalagi didapatkan di toko-toko buku terdekat he..he..) karena Anda sudah terlambat. Kebetulan ceritanya hilang entah kemana karena banyak yang pinjem untuk baca sampe lupa siapa yang belum balikin (ha.ha… gw yang promosiin kok he..he.., tapi kalo mo bikin lagi tenang aja masih ada di otak.. he.he..). Tapi ternyata kebiasaan itu pun tidak bertahan lama, gw sempet berhenti juga untuk buat cerita-cerita fiksi (maklum moody) dan beralih profesi lagi belajar melukis. Ditambah saat itu memang lagi sibuk-sibuknya ikut kegiatan kesenian di luar sekolah (Dragon dance, wah lagi ngetren2nya saat itu, diumur gw yang masih 16 tahun, gw dah kuat lari-lari bawa tongkat kayu yang beratnya kurang lebih 5 kilo ho..ho..ho. wanita super, hasilnya tangan gw udah kaya AdeRai hahaha). Tapi ternyata fenomena kehidupan yang gw hadapi menggerakan kerinduan gw untuk menulis kembali. Lagi-lagi awal tulisan itu bermula dari rasa suka gw sama seseorang yang tentunya ga bisa gw ungkapan melalui kehidupan nyata (bukanya ga PD sih, tapi tau kalo bakal ditolak hahaha). Dimulailah kembali kegiatan curahan hati gw melalui buku yang kecilnya cukup membuat mata bengkak (bukan karena ceritanya menyedihkan, tapi Karena tulisan gaya cacing bersambung gw yang susah dibaca ha.ha..). Semua perasaan gw tertuang dalam bentuk tulisan, dan hal itu sudah bikin gw merasa lega tanpa harus curhat ma orang lain (yang kenal gw di masa itu mungkin bingung, karena terus terang teman-teman gw saat itu beranggapan gw ga pernah punya masalah percintaan. Hahahaha…. Belom tau dia, mungkin mereka akan kaget setelah membaca tulisan gw yang satu ini he..he..). Kegiatan menulis gw ternyata terus berlanjut sampai akhirnya buku itu habis ditulis dan digantikan oleh buku pemberian sahabat gw Novita sebagai hadiah ultah gw.
Mulai Bertambah Gila
Awalnya buku pemberian itu niatnya mo dipake buat nulis-nulis cerpen, tapi apa mo dikata kisah kehidupan gw lebih menarik untuk gw tulis dibanding kisah-kisah fiktif seorang tokoh yang ada di otak gw. Jadi mulai lagilah gw teruskan metode curhat gw ke dalam sebuah buku yang kali ini ukurannya lumayan besar dari sebelumnya. Kali ini, karena bertambah dewasa dan bertambah gila (ha..ha.., gila kalo udah nulis ga inget waktu) tulisan gw ga hanya cerita tentang masalah yang sedang gw hadapi saja, tapi juga mengenai cerita orang-orang disekeliling gw, dan ditambah tulisan-tulisan ngelantur gw (yang ada diotak semua gw keluarin, biar ga mampet he..he..). Trus kalo gw lagi ada masalah biasanya gw juga bakal nasehatin diri gw sendiri di situ, dan ga tau kenapa diri gw di luar sana (yang fiktif) malah lebih bijak dibandingkan aslinya (ha..ha… kadang gw malah merasa goblok dan malu ma diri gw yang di luar sana, sempet juga gw diomel-omelin dan dicaci maki,
Iseng Bantu Majalah
Hal tergila dan terPD yang pernah gw lakuin dalam sejarah menulis gw adalah gabung di media massa (Majalah Buddhis Sinar Padumuttara). Gimana ga, gw baru sadar kalo ini adalah ide tergila dalam hidup gw, ketika gw melihat hasil yang gw sendiri ga menyangka akan jadi sebegitunya (ha..ha…). Dulu di dalam pikiran gw SP cuma bakal jadi majalah-majalah yang sering gw liat di wihara-wihara, minimal akan menjadi seperti majalah sebelumnya. Tapi pada kenyataannya SP berpenampilan luar biasa (MoM Sriloka emang ok banget kalo urusan nge-design), dan ga percaya kalo ada tulisan gw di dalamnya. Trus Yang lebih gilanya lagi, SP memuat hal yang belum pernah gw tulis sebelumnya, isinya materi serius yang harus didapat dari hasil wawancara, bedah buku dan cari referensi (dong..dong..dong.. dong… Terus terang modalnya cuma pengen nulis doang, ga punya modal apa2 tapi mao-maonya nyebur,.. Sok PD… hahaha… untungnya punya dasar nulis tugas composition
Kenapa Juga gw mo nulis di Majalah!!
Selama menulis untuk SP, banyak sekali teman-teman baru yang berdatangan dalam hidup gw. Karena SP pula pola pikir gw berubah 180 derajat. Gimana ga, orang-orang berbakat dan orang-orang bijak, mulai bermampiran dan memberikan gw konsep-konsep baru mengenai kehidupan. Bukan hanya belajar nulis saja yang ternyata gw dapatkan, tetapi juga pelajaran hidup yang sangat-sangat berharga. Gw ngerasa hutang budi dengan SP, dan rasa terima kasih gw ga akan pernah cukup buat mengungkapkan ini semua. Trus kenapa juga awalnya gw bisa gabung di SP??? Ternyata dari hasil Selidik punya selidik, selain gw hobi nulis, sesungguhnya ada juga motif lain dibalik itu semua. Hal ini baru gw sadari ketika gw merenungkan apa saja yang sudah terjadi di dalam hidup gw. Motif gw yang satu itu tercetus atas dasar keinginan dan ego yang besar untuk nunjukin kemampuan gw kepada seseorang. Seorang lulusan sociology yang memang cukup berjasa dan cukup berkesan, serta cukup memengaruhi kehidupan gw di waktu itu. Dia satu-satunya orang yang menjadi motivasi gw untuk melakukan apa yang sebenarnya enggan gw lakuin (membuktikan diri dan menunjukan kebolehan). Dia (Orang yang pernah bercita-cita jadi penulis itu) adalah orang yang pertama kali gw sayang dengan tulus, tetapi pergi karena sesuatu hal (hiks..hiks…). Namun, kepergiannya membuat gw sadar kalo gw harus lebih banyak belajar lagi tentang kehidupan dan bagaimana cara hidup yang benar. Karena dia juga gw jadi sadar bahwa betapa lugu dan gobloknya gw selama ini. Ternyata motif inilah yang akhirnya membuat gw jadi aktif di segala kegiatan, dan sampe-sampe temen gw bilang, gw ga fokus dengan apa yang gw tuju dalam hidup gw. Bahkan jadi guru pun motifnya berawal karena dia. Menyedikan… mengetahui bahwa semua motif dari kegiatan yang gw lakukan selama itu berawal dari kisah gw tentang dia. Namun setelah lama berkecimpung di lingkungan yang lumayan memberikan kondisi yang baik, dan setelah apa yang gw inginkan pun tercapai, akhirnya motif itu pun berubah seiring waktu. Tiga tahun berlalu dengan cepat, gw pun sadar ada hal yang lebih berharga dari sekedar menunjukkan diri saja. Kasih dan ketulusan untuk memberi jauh lebih amat sangat berharga dibandingkan dengan motif (menunjukan diri) yang selama ini menjadi dasar tindakan gw. Namun apa mau dikata walaupun kadang ingin meninggalkan apa yang sudah dicapai dan diperbuat, karena menyadari bahwa betapa rendahnya motivasi dari semua yang gw lakukan, namun rasanya gw sudah terlanjur tercemplung dan berkotor-kotor ria di dalamnya. Setelah menyadari semua ini, gw pun akhirnya berbenah diri mencari arah tujuan gw sebenarnya… Ingin jadi apaan sih gw??? Apa mantap mo jadi penulis??? Apa sudah mantap jadi guru Playgroup??? Akan tetapi apa pun yang gw lakukan, selama kasih dan ketulusan yang menjadi motifnya, gw rasa itu yang akan membuat gw bahagia.
Writing Skill cabutan
Sekarang ini kalo ditanya apa motif lo melakukan semua yang lo lakukan di dalam hidup lo??? Jawaban gw yang masih duniawi banget adalah “I want to make my Mom Happy to what I’ve done. That’s it.” Tanpa disangka motif yang satu ini malah menjadi motor penggerak bagi gw. Gw yang tadinya merasa kehilangan arah karena menyadari tujuan dari motif gw sudah tercapai, akhirnya dapat bangkit lagi melanjutkan apa yang sudah gw mulai. Kalo dipikir-pikir kembali mengenai semua yang gw lakukan selama ini, rasanya gw tidak akan pernah berkembang tanpa orang-orang berjasa dibaliknya. Apa lagi mengenai kemampuan gw menulis (kan udah tau dasarnya cuma iseng-iseng n ga tau rambu-rambunya) tentunya banyak sekali yang sudah memberi pelajaran dan masukan-masukan bagi tulisan gw selama ini. Ada beberapa orang yang memang berjasa banget dalam hal ini.. dan rasanya ingin sekali gw sebutkan nama mereka di dalam tulisan ini, namun gw pun ga mo mengekspos mereka tanpa persetujuan dari mereka terlebih dahulu. Karena gw tau mereka semua adalah pahlawan tanpa tanda jasa, dan orang-orang yang tidak punya motif untuk menonjolkan diri (he..he.. kasih kabar ya, kalo mo ditulis namanya.. haha). Tetapi yang jelas gw banyak mengucapkan terima kasih atas skill2 cabutan yang selama ini gw pelajari dari mereka dan Anda-anda sekalian. Semoga dengan apa yang selama ini gw lakuin dapat bermanfaat bagi semua orang. Satu hal yang ingin gw kutip dari kata-kata seorang teman kepada gw, yang akhirnya merubah style tulisan gw hingga saat ini adalah “Menulislah dengan hati dan jadilah dirimu sendiri”.
Sabtu, 22 Agustus 2009
Kekuatan Cinta Adut (artikel lomba BFBA-BFCG)
Kekuatan Cinta Adut
Lisa dan Willy adalah pasangan muda yang sudah lama bertunangan dan akan segera menikah. Namun, rencana pernikahan mereka harus kandas lantaran Willy meninggal, seminggu sebelum hari pernikahannya. Willy yang semasa hidupnya amat menyukai binatang perliharaan, ternyata terlahir kembali sebagai seekor anak anjing peliharaan Ibu Grambel, yaitu seorang janda tua yang hidup sendiri dan bertempat tinggal di sebelah rumah Lisa.
Sementara tunangannya Willy menjalani hidupnya sebagai seekor anjing, Lisa sang penulis novel akhirnya menerima tawaran bosnya untuk mengambil cuti dalam beberapa minggu guna menenangkan dirinya. Selama liburannya di rumah, Lisa menjadi lebih mengenal dekat para tetangganya. Satu hal yang membuatnya terhibur adalah seekor anak anjing Ibu Grambel yang baru saja lahir, dan tak lain adalah kelahiran kembali dari tunangannya itu. Akhirnya kekuatan cinta mereka menyatukan mereka kembali, walaupun dalam wujud yang berbeda. Lisa yang sebelumnya tidak menyukai seekor anjing, ternyata telah jatuh hati dengan makhluk lucu yang selalu menyapanya itu. Ia pun kemudian memelihara dan merawat anak anjing itu dirumahnya. Peliharaannya itu diberi nama Adut, yang artinya ‘Anjing Gendut’. Selama tinggal bersama Adut, banyak kejadian aneh yang selalu mengingatkan Lisa tentang tunangannya. Perihal prilaku Adut yang sepertinya tahu banyak tentang kebiasaan dan kesukaan Lisa. Keanehan prilaku anjingnya itu semakin menjadi, ketika Victor sahabatnya semasa kuliah muncul dan mulai berusaha mendekati Lisa. Apa pun yang dilakukan Victor demi merebut hati Lisa sepertinya tidak disukai Adut. Adut pun selalu uring-uringan jika Victor datang menemui Lisa di rumahnya ataupun mengajaknya pergi untuk makan malam bersama. Kelakuan Adut terhadap Victor semakin lama membuat Lisa kepusingan. Sampai suatu ketika Lisa sempat berniat membuang dan menelantarkan Adut, karena perbuatannya yang dengan sengaja menggigit tanganVictor, ketika Victor berusaha mencium Lisa. Namun, sekali lagi karena didasari oleh kekuatan cinta, Lisa pun tidak tega dan mengurungkan niatnya untuk membuang Anjing peliharaannya itu.
Bulan demi bulan berlalu, Adut pun bertambah tinggi dan besar, namun ketidaksukaannya terhadap Victor masih saja berlanjut. Terlebih lagi ketika mengetahui niat Victor untuk melamar Lisa, membuat Adut semakin gerang dan memaksa Lisa untuk selalu bertemu Victor di luar rumahnya. Walaupun, Lisa masih dibayang-bayangi oleh sosok mantan tunangannya, namun lama kelamaan hati Lisa pun mencair berkat rayuan kata-kata manis Victor. Keputusan Lisa untuk menerima lamaran Victor membuat Adut jadi sakit-sakitan, anjing itu pun menjadi pendiam dan tak lagi memusingkan kehadiran Victor di rumahnya. Adut yang sepertinya telah kehilangan gairah hidup dan hanya bisa tidur terdiam di dalam kandangnya, seakan-akan merelakan dan mengerti perasaan majikannya. Waktu pun berlalu, dan hari pertunangan akhirnya tiba. Di akhir pesta pertunangannya Victor mabuk berat dan secara tidak sadar mengucapkan sesuatu perihal kematian Willy yang juga sahabatnya semasa kuliah. Dengan sembarangan, Victor menceritakan rasa cintanya yang lama ia simpan terhadap Lisa, dan rasa sakit hatinya kepada Willy ketika datang ke rumahnya untuk mengantarkan undangan pernikahannya dengan Lisa, pada hari dimana Willy mengalami kecelakaan dan meninggal di tempat. Sambil gembira dan tertawa lebar, Victor dengan bodohnya mengatakan rahasia yang seharusnya ia simpan rapih. Sebuah rahasia besar, dimana ia telah mencapurkan obat tidur pada minuman yang disuguhkannya kepada Willy. Seketika mendengar hal itu Lisa menjadi garang, dan pergumulan di antara mereka pun terjadi di luar rumah, sampai akhirnya satu buah mobil melintas dan akan menabrak Lisa. Namun, saat itu Adut telah bebas dari kandangnya dan berhasil menyelamatkan Lisa. Karena terbentur aspal Lisa pun pingsan dan tidak mengetahui kalau anjingnya itu telah mati menyelamatkannya. Kemudian karena perbuatan baik yang dilakukan Willy sebagai seekor anjing, Willy pun diberi kesempatan untuk menemui Lisa di alam bawah sadarnya, dan memberitahukan atas semua yang telah terjadi. Dengan mengucapkan selamat tinggal dan mendoakan semoga selalu bahagia, sosok Willy pun lenyap bersamaan dengan cahaya yang membuka pelupuk mata Lisa. Setelah sadar dari pingsan, Lisa pun akhirnya memutuskan pertunangannya dengan Victor.
By. Selfy Parkit
Dhammatalk Bersama Ajahn Brahm
Setelah menunggu selama hampir 2 tahun, akhirnya pada tanggal 20 Februari 2009 tepatnya hari sabtu di Pantai Indah Jakarta, Yayasan Ehipassiko yang saat itu bekerja sama dengan BFI (Buddhis Fellowship Indonesia) berhasil menyelenggarakan Dhammatalk dengan pembicara bhikkhu berkebangsaan Australia, Ajahn Brahm. Dhammatalk ini sebenarnya tidak hanya diselenggarakan di
Walaupun pembukaannya acara ini sempat terlambat untuk beberapa menit, namun Dhammatalk yang dihadiri oleh kurang lebih 2000 orang ini tidak membuat para pengunjungnya kecewa. Karena Tidak hanya membabarkan Dhamma saja, sesampainya di lokasi Ajahn Brahm pun dengan murah hati menyempatkan waktunya untuk melayani umat yang meminta tanda tangannya. Selain buku pertama dan keduanya yaitu ‘Mindfulness Bliss and Beyond’ yang juga diterbitkan oleh Yayasan Ehipassiko dengan judul ‘Superpower Mindfulness’, buku ketiga yang berjudul ‘Hidup Senang Mati Tenang’ pun laris terjual. Buku ketiga yang berisi kumpulan-kumpulan ceramah Ajahn Brahm ini sengaja diterbitkan Yayasan Ehipassiko secara khusus, oleh karenanya kita tidak akan menemukan judul asli dari buku tersebut. Sebenarnya apa yang membuat buku dan Dhammatalk dari Ajahn Brahm ini banyak diminati oleh para pembaca dan umat Buddha? Rupanya bhikkhu kelahiran 1951 ini memang memiliki karisma yang luar biasa. Selain senyumnya yang tak pernah berhenti, caranya menjawab pertanyaan pun sungguh di luar perkiraan. Di awal pembukaan Dhammatalk MoM Handaka selaku pendiri Ehipassiko Foundation sempat sedikit bercerita mengenai pengalamannya selama berkeliling
Dhammatalk yang berlangsung kurang lebih selama 3 jam itu sungguh memberikan pencerahan tersendiri bagi umat yang mendengarnya. Selain ringan dan mudah dicerna kisah-kisahnya juga dikemas dan diceritakan oleh Ajahn Brahm dengan sangat apik dan penuh humor. Tak heran jika semua pengunjung tertawa dan merasa terhibur. Jadi bukan hanya batin saja yang tercerahkan, fisik pun tersehatkan oleh senam tertawanya.
Oleh Selfy Parkit. Didedikasikan untuk orang tua, Friends dan semua Makhluk.

