Minggu, 18 April 2010

Teaching Media

How to teach listening, and speaking using game
Take it out!!!

Majalah SP edisi 4

Take it out...

Kamis, 15 April 2010

Sahabat di Hatiku

Sahabat…
Sejak dahulu sampai sekarang kau selalu mengisi hatiku… Di mana Aku bersinggah, di situ Aku ingin Kau selalu ada di sisiku… Rasanya di setiap waktuku ini takkan lengkap, tanpa adanya kau ‘tuk berbagi kebahagiaan denganku…

Sahabat…
Adakalanya kau pun menjadi tumpahan kekesalanku. Terkadang kau pun harus ikut merasakan kejengkelanku yang akhirnya ku sesali karena membuatmu tak bahagia… Namun sahabat, kau tak pernah menganggap itu sebagai hal serius yang kau pakai sebagai alasanmu untuk meninggalkan aku… Kau malah memberikanku kasih sayang yang lebih agar aku tak lagi terjerumus oleh kemarahanku.

Sahabat…
Kadang kala kau pun bersedia menjadi bantal tidurku, sebagai tempat tumpahan air mataku… Tempatku menyuarakan keluh kesahku… Oh… Sahabat… Saat itu kau sungguh tak keberatan memberikan pundakmu untuk kutangisi, walaupun kau tahu air mata dan ingusku sudah siap membasahi pakaianmu di bagian itu.

Sahabat…
Ada halnya itu pun berubah sahabat… Kadang kala kita bertengkar dan berselisih paham tanpa adanya alasan yang jelas… Masing-masing dari kita mempertahankan ego yang besarnya hanya seujung jari kelingking jika diukur dengan lamanya persahabatan kita… Tetapi begitulah adanya sahabat… Ego kita menghancurkan dinding persahabatan yang telah kita bangun bersama. Saat itu terjadi sahabat… sesal pun tiada guna…

Sahabat…
Aku takkan pernah bisa terlelap jika memikirkan hatimu yang terluka karena pertengkaran kita. Dan kadang tanpa ku tahu.. kau pun seperti itu adanya, merasa sedih karena perselisihan kita… Sahabat kalau saja saat itu kita tidak saling terbuka, membicarakan perasaan dan kesedihan yang kita rasakan, mungkin saja sang ego akan memisahkan kita.

Sahabat…
Adakalanya kau merasa lebih bahagia dengan orang lain yang lebih kau cintai dari padaku… Adakalanya waktumu kau curahkan untuk dirinya, melebihi waktumu untuk diriku… Adakalanya bahkan kau lebih nyaman berbicara dengannya, melebihi membagi ceritamu kepadaku… Adakalanya kau memilih pergi dengannya, melebihi menghabiskan harimu denganku…

Sahabat…
Sungguh aku akan sangat berpikiran kerdil, jika aku merasa cemburu dan tak turut bahagia dengan apa yang menjadi kebahagiaanmu, Sahabatku… Namun sahabat, ada saatnya aku merasa kesepian seorang diri,.. ada saatnya aku ingin berbicara dan berbagi cerita denganmu,… ada saatnya aku ingin menghabiskan waktuku dan pergi bersama denganmu,.. Tapi… ada saatnya aku pun tak mau mengganggu kebahagiaanmu dengannya sahabatku…
Aku mengerti sahabat…
Seperti engkau mengerti aku, Seperti engkau yang rela melepaskan sejenak kebahagiaanmu demi untuk membahagiakanku. Aku mengerti sahabat, karena dengan mengertilah kita akan tetap selalu menjadi sahabat…

Sahabat…
Kita takkan pernah tahu kapan perpisahan alam akan memisahkan kita… Kita pun takkan pernah tahu kapan perubahan alam akan merenggut apa yang telah kita pertahankan… Kita takkan pernah tahu semua tentang ketidakpastian dunia…
Tetapi sahabat…
Sampai kapan pun… di kehidupan ini atau pun di kehidupan yang akan datang, seandainya aku dapat memilih… sahabat… kau tetaplah sahabatku…

Sahabat…
Bersama kita berbagi, suka cita, canda tawa, riang gembira, hiru biru kehidupan… Memberikan warna-warni kehidupan yang tak pernah pudar oleh masa.. Membuat waktu yang berlalu dan kulalui bersamamu ini menjadi semakin indah. Tak peduli sehari, sebulan, setahun bahkan seabad… kau tetaplah sahabatku… Rasa sayang, ketulusan dan kesetiaan ini sahabat… terukir di hatiku untuk dirimu sahabatku…

Ditulis dan persembahan untuk sahabat-sahabatku di sana yang tak dapat kusebutkan namanya satu persatu.

With love,
Selfy Parkit

Rabu, 31 Maret 2010

HOW TO TEACH LISTENING AND SPEAKING BY USING GAME


Teaching is will be more fun if we use games as the method. Here is one of the examples of games that we can apply to teach listening and speaking. The title of game is ‘What’s the Question?’
What’s the Question?
Level                      :             Any Level
Type of Activity :             Listening and Speaking
Purpose               :             Review question forms previously studied in class
Procedure          :              Form two teams (three will work, but two seems to add just the right amount of competitive tension)
Explain the game, with a few examples of answers in search of question. Ask, ‘What’s the question?’, and get students to correctly say get corresponding questions for your answer. Have two players – one from each team – come to the front. Style it like a game show if you like, with the students standing side by side. If you have access to bells or buzzers, it’s even more fun. Next, read an answer to a question and say, ‘What’s the question?’ the fastest player to respond wins a point to her/his team. New contestants come to the front for a new round.
Rationale             :               This game forces the students to think backwards a little. So they must provide a grammatically perfect question. All too often, they are used to answering rather than asking question, so this is challenging and useful as review.
Submitted by Tim

Source : www.itelj.org/c/games.html

Rabu, 30 Desember 2009

Gadis Kecil

Kau gadis rapuh yang di sana...
Senyummu seketika sirna terhempas angin...
Kau kesepian dan merasa kosong...
Kau merasa hilang dan ditinggalkan...
Hatimu itu rapuh tidakkah kau sadari?...
Kau mudah pecah walaupun terlihat kokoh...
Kau gadis kecil yang kesepian...
Gelak tawamu tak lagi memecahkan keheningan...
Canda guraumu tak lagi didengarkan...
Begitukah duniamu memperlakukanmu?...
Kau tak bisa menantang dunia...
Karena kau merasa lemah dan tak berdaya...
Kau hiraukan semua yg datang...
Kau tinggalkan semua yg kau miliki...
Kau hempaskan semua yg ada...
Dan kau merasa sendiri,
meratapi kesepianmu...
Menangisi kesendirianmu...
Gadis kecil yang rapuh...
Lupakah kau bahwa,
Masih ada mentari pagi yg tetap setia menghangatkan tubuhmu...
Masih ada merdunya kicau burung yg menemanimu...
Masih ada semilir angin yg menerpa lembut wajahmu...
Masih ada pepohonan yg menyegarkanmu...
Gadis Kecil...
Masihkah kau merasa rapuh?...
Masihkah kau merasakan kesendirian?...
Masihkah kau merasakan kesepian?...
Dari dulu hingga sekarang memang begitulah hidup dan kehidupanmu..
Mulailah kembali gadis kecil...
Bahagia oleh Sinar Mentari...
Bahagia oleh merdunya kicau burung...
Bahagia oleh semilir hembusan angin..
Bahagia oleh banyak pepohonan...
Walau tak ada seorangpun yang menemani...
Kau tak boleh rapuh gadis kecil...
Karena...
Dunia membutuhkan gelak tawamu...
Dunia membutuhkan canda guraumu...
Dunia membutuhkan semangat hidupmu...
Dunia membutuhkan senyummu gadis kecilku...
Maka tersenyumlah...
Sambutlah hari esok dengan senyum...
Dengan pelangi mimpi di hatimu...
Dengan gemerlap bintang di matamu...
Dengan sejuta ketegaran yg melapisi rapuhnya hatimu...
Dan kau tak lagi rapuh gadi kecil...
Karena cintamu t'lah membuatmu tetap indah...
Seindah duniamu gadis kecil...

Jumat, 27 November 2009

Buddhis Menulis

Bodoh

Sekitar sebulan yang lalu aku mengangkat telepon dari orang aneh. Lalu tiba-tiba saja orang yang sok kenal dan sok akrab itu mengucapkan kata-kata kotor yang tak pantas aku kemukakan di tulisan ini. Spontan saja karena kaget aku langsung membalas ucapannya dengan kata yang kasar juga, sebutlah satu kata itu ‘Bodoh’. Tapi apa yang terjadi aku malah tampak begitu bodoh karena mengucapkan kata-kata bodoh itu kepada orang bodoh. Lalu siapa yang sebenarnya bodoh? Siapa lagi kalau bukan aku sendiri.

Ada cerita yang menceritakan tentang sebatang pohon cemara yang dicaci maki oleh bunga mawar, tapi si pohon cemara tetap diam dan bertahan selama musim dingin. Sedangkan si mawar, ia mati dan tak dapat bertahan. Inti ceritanya adalah orang yang berkata kasar atau mencaci maki bagaikan orang yang menegadah dan membuang ludahnya ke atas, maka Kata-kata dan caci makinya akan kembali ke dirinya sendiri.


Pelajaran: Jika tidak mau disebut bodoh, maka sabar dan tenanglah kalau sedang dicaci maki.


Tak Sekedar Teman

Vivi Sumanti adalah nama dari seorang teman yang saya jumpai ketika berkunjung ke Wihara Vimala Dharma, Bandung. Walaupun belum kenal lama, tetapi teman yang satu ini begitu ramah dan banyak membantu. Dia tak sungkan-sungkan menyediakan waktunya hanya untuk menemani saya dan teman saya berkeliling sekitar wihara dan menjelaskan sejarah serta fungsi setiap ruangannya. Bahkan teman baru yang penuh senyum ini tak merasa lelah menunggui kami pulang dari mall untuk membeli makan malam, padahal dia baru saja kembali dari acara pembacaan paritta untuk orang yang meninggal.

Karena dialah kami bisa menginap semalam di wihara yang penuh kenangan itu. Kebaikan hatinya banyak menginspirasi saya dan meninggalkan kenangan manis saat bersamanya. Terima kasih teman, semoga saja kita masih dapat bertemu kembali di kehidupan ini.


Pelajaran : Teman yang baik selalu dikenang di hati.

DIBUANG SAYANG


Beberapa waktu lalu saya sempat terpilih dari sekian ribu orang sebagai peserta BFBA (Bikin Film Bareng Artis) yang diselenggarakan oleh LA Light Indie Movie, yaitu salah satu program yang merupakan wadah untuk belajar dan berkreasi di bidang perfilman Indonesia. Khusus program BFBA peserta terpilih akan membuat film pendek bareng artis dan Program ini akan diperkirakan memakan waktu berbulan-bulan.

Saya senang sekali ketika mendengar berita terpilihnya saya, apalagi ketika mereka mengundang peserta untuk menghadiri workshop di Yogyakarta yang tentunya di sana akan hadir orang-orang hebat. Namun sayangnya di akhir keputusan, saya harus merelakan kesempatan besar itu, dan saya harus mengundurkan diri karena waktu belajarnya bentrok dengan jam kerja saya, apalagi saya juga berencana untuk melanjutkan kuliah saya. Walaupun awalnya tak terlalu mengharap untuk terpilih, tetapi ketika mendapatkannya kita menjadi sulit untuk melepas.

Pelajaran : Mendapat lebih mudah dari melepas.